"Kita harus menunjukkan survival kita," tegasnya.
Survival itu, lanjut Sigit, terwujud ketika Indonesia menjadi 'karpet merah' bagi industrialisasi dan investasi. "Dan itu artinya kesejahteraan buruh ke depan akan terus terjaga," imbuhnya. Logikanya sederhana: industri harus tumbuh dan sehat dulu. Kalau industri sehat, buruh baru bisa mendapatkan hak-haknya, insentif yang sesuai, dan pada ujungnya mencapai kesejahteraan. Hubungan industrial yang harmonis, kata dia, mutlak diperlukan.
Di sisi lain, membicarakan isu yang kerap memanas seperti regulasi dan revisi UU Cipta Kerja, Kapolri punya saran praktis. Ia mendorong serikat buruh dan pengusaha untuk lebih banyak berembuk secara informal. Pertemuan-pertemuan non-formal itu penting untuk mencari titik temu sebelum pembahasan formal di legislatif bergulir.
"...dicari titik tengahnya yang bisa diterima oleh rekan-rekan serikat dan juga rekan-rekan pengusaha sehingga pada saat bergulir revisi tersebut di DPR sudah tidak ada masalah lagi," jelasnya.
Acara halal bihalal itu sendiri dihadiri sejumlah pejabat. Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah dan Kapolda Banten Irjen Hengki hadir di tempat. Dari internal Polri, hadir mendampingi Kapolri antara lain Kadivhumas Johnny Eddizon Isir dan Kapusdokkes Irjen Asep Hendradiana. Para Dewan Penasihat KSPSI seperti Komjen Yuda Gustawan dan Komjen Imam Widodo juga terlihat. Kehadiran Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid beserta jajaran Forkopimda kabupaten setempat melengkapi keramaian acara sore itu.
Artikel Terkait
Menteri PUPR Tinjau Proyek Hunian Warisan Bangsa di Purwakarta, Dijadikan Prototipe Nasional
Sekitar 250 Pengungsi Rohingya dan Warga Bangladesh Hilang di Laut Andaman
Industri Semen Terancam Mati Gara-gara Pasokan Batu Bara Tersendat
Angin Kencang dan Hujan Deras Rusak Rumah, Kendaraan, dan Sekolah di Bogor