Menteri PUPR Tinjau Proyek Hunian Warisan Bangsa di Purwakarta, Dijadikan Prototipe Nasional

- Rabu, 15 April 2026 | 01:45 WIB
Menteri PUPR Tinjau Proyek Hunian Warisan Bangsa di Purwakarta, Dijadikan Prototipe Nasional

Purwakarta, Selasa lalu, ramai. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, blusukan ke lokasi proyek Hunian Warisan Bangsa (HWB). Ia menyebut kawasan perumahan terjangkau ini bakal jadi prototipe nasional.

Kunjungan itu bukan sekadar seremonial. Ini adalah bagian dari program besar pemerintah: membangun tiga juta rumah. Gagasannya dari Presiden Prabowo Subianto, dengan tujuan membuka akses kepemilikan rumah seluas-luasnya. Harapannya, program ini tak cuma sekadar menyediakan atap, tapi juga mendongkrak kualitas hidup dan mobilitas sosial warga.

Di hadapan awak media, Sirait terlihat antusias.

Memang, angka yang ditawarkan HWB Purwakarta bikin mata berbinar. Untuk unit satu kamar tidur, harganya mulai Rp98 juta. Yang dua kamar, sekitar Rp115 juta. Bandingkan saja dengan harga rumah subsidi FLPP yang biasanya di atas Rp160 juta. Jelas lebih murah.

Yang menarik, cicilannya dirancang super ringan. Cuma sekitar Rp500 ribu per bulan. Bahkan ada program khusus untuk unit satu kamar: cicilan perdananya cuma Rp170 ribu per bulan, berlaku selama 15 bulan pertama. Proyek yang mulai dikembangkan Juli 2025 dan diluncurkan Maret 2026 ini langsung laris. Dalam waktu singkat, lebih dari 1.500 unit sudah laku. Hasilnya, proyek ini dipandang sebagai model yang bisa ditiru di daerah lain.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang turut hadir, menyambut baik. Menurutnya, Purwakarta siap jadi contoh.

Lokasinya sendiri memang strategis. Purwakarta terjepit di antara Jakarta dan Bandung, dikelilingi kawasan industri dengan pabrik-pabriknya. Otomatis, kebutuhan hunian bagi para pekerja di sana sangat tinggi. Proyek HWB ini hadir menjawab kebutuhan itu.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar