Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tak yakin target lifting minyak 1,6 juta barel per hari bisa tercapai. Menurutnya, angka itu mustahil. Realitas cadangan minyak kita sudah jauh berbeda dibanding era kejayaan 1996-1997.
Sumur-sumur besar yang masih beroperasi pun produksinya terus menurun. Mereka sudah lewat masa puncaknya.
"Saya tidak terlalu percaya bahwa kita bisa melakukan peningkatan lifting sampai dengan 2029, 1,6 juta (Bph). Menurut saya itu hanya Allah yang bisa memberikan kita. Kita fair-fair saja, kita enggak usah baku tipu dalam ruangan ini,"
Ucap Bahlil di Kompleks DPR RI, Kamis lalu. Suasana saat itu terkesan blak-blakan.
Lalu, berapa target yang realistis? Bahlil menyebut angka 800 hingga 900 ribu barel per hari saja. Itu pun baru kemungkinan besar tercapai di tahun 2029 nanti. Strateginya dengan menghidupkan kembali sumur-sumur rakyat.
Namun begitu, dia punya pandangan lain soal swasembada energi. Menurut Bahlil, jalan menuju kemandirian tak melulu soal mengejar angka lifting. Ada cara lain, yaitu substitusi. Mengurangi ketergantungan pada minyak mentah dengan memanfaatkan sumber daya lain.
“Maka kita harus mempergunakan apa yang kita miliki yang namanya nabati. Ethanol itu adalah bagian terpenting dalam rangka melakukan substitusi. Terhadap crude kita. Nah, ini bicara tentang kemandirian,"
tegasnya.
Soal angka, Bahlil membeberkan data yang cukup mencengangkan. Konsumsi BBM nasional kita tiap tahunnya mencapai 39-40 juta kiloliter. Sementara produksi dalam negeri cuma sanggup memenuhi 14 juta kiloliter. Artinya, defisitnya besar.
Akibatnya, di tahun 2025 ini pemerintah masih harus mengimpor bensin sekitar 25 juta kiloliter. Sebuah angka yang sangat besar.
Di sisi lain, ada sedikit angin segar. Keberadaan RDMP Balikpapan disebut bisa menambah pasokan BBM dalam negeri sekitar 5,8 juta kiloliter. Jika proyeksi ini berjalan, impor BBM pada 2026 diprediksi bisa turun jadi 19 juta kiloliter. Masih besar, tapi setidaknya ada penurunan.
Jadi, intinya, Bahlil mengajak semua pihak melihat kondisi riil. Target harus ambisius, tapi juga perlu diimbangi dengan kalkulasi yang masuk akal dan strategi jitu di lapangan.
Artikel Terkait
KAHMI Minta Polemik Ceramah Jusuf Kalla Dihentikan, Khawatir Memecah Belah Umat
Kemendagri Peringatkan Pemkab Magelang Agar Tak Asal Bikin Inovasi Daerah Tanpa Perencanaan Matang
Warga Palopo Ditemukan Selamat Setelah Tersesat di Hutan Battang Barat
Komnas HAM Nyatakan Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS sebagai Pelanggaran HAM Berat