Suasana di Beirut memanas. Ratusan warga memadati jalan-jalan ibukota Lebanon itu, menentang keras rencana negosiasi yang akan dilakukan Perdana Menteri Nawaf Salam dengan Israel. Aksi protes ini muncul sebagai respons atas kabar bahwa pembicaraan perdamaian bakal segera digelar.
Menurut informasi yang beredar, pertemuan pertama direncanakan terjadi di Washington D.C., tepatnya di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, pada Selasa, 14 April 2026. AS disebut akan bertindak sebagai mediator utama dalam pembahasan gencatan senjata antara kedua negara yang sudah lama berseteru itu.
Di sisi lain, dari Tel Aviv, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Dia mengklaim bahwa pihak Lebanon-lah yang menghubungi Israel sekitar bulan lalu, mengajak untuk melakukan perundingan perdamaian secara langsung.
Klaim Netanyahu ini disampaikan pada Sabtu waktu setempat. Kebetulan, momen itu bersamaan dengan berlangsungnya proses perundingan lain antara Amerika Serikat dan Iran, yang saat itu digelar di Pakistan. Sebuah kebetulan waktu yang menarik.
Protes di Beirut sendiri menggambarkan betapa sensitif dan berpotensi pecahnya isu ini di dalam negeri Lebanon. Banyak yang masih mengingat konflik panjang dengan negara tetangganya itu.
Artikel Terkait
Baskara Mahendra: Dari Finalis Abang None hingga Bintang Film Pemenang Penghargaan
Forum Korban Desak DPR Evaluasi UU Perdagangan Berjangka
Rumah Terduga Bandar Narkoba Digeruduk Massa, Kericuhan Keempat Terjadi di Rohil
Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat