Pertamina Pacu UMKM Pangan Fungsional Naik Kelas Lewat Program Aggregator

- Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00 WIB
Pertamina Pacu UMKM Pangan Fungsional Naik Kelas Lewat Program Aggregator

Lewat Program Pertapreneur Aggregator (PAG) 2025, Pertamina punya misi jelas: membawa UMKM pangan fungsional naik kelas. Bukan sekadar bertahan, tapi jadi usaha yang punya standar dan sanggup bersaing di pasar.

Fokusnya di sini ada pada pangan fungsional. Jadi, produk yang dihasilkan nggak cuma alami, tapi juga harus aman, teruji, dan punya dampak nyata. Menurut mereka, ini salah satu cara untuk ikut menguatkan ketahanan pangan nasional.

Semua berangkat dari satu prinsip dasar: keamanan dan kualitas produk adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Itulah mengapa pendampingan untuk UMKM ini dirancang agar bisnis mereka benar-benar berkembang, bukan jalan di tempat.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan hal ini sejalan dengan program pemerintah.

"UMKM pangan perlu didorong untuk naik kelas dengan standar yang kuat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).

"Dengan sistem dan kualitas yang terjaga, UMKM dapat berperan dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menyediakan produk yang bermanfaat bagi masyarakat."

Di lapangan, salah satu yang merasakan dampaknya adalah Imago Raw Honey dari Bogor. Usaha madu ini termasuk dalam 10 champion PAG 2025 yang kini sedang menjalani fase akselerasi dan persiapan ekspansi.

Henry, pemiliknya, mengakui pendampingan program ini sangat membantu. Mereka berhasil memperkuat manajemen dan operasional. Bahkan, pada Desember 2025 lalu, Imago Raw Honey berhasil mengantongi sertifikasi HACCP. Sebuah langkah krusial untuk menjamin keamanan produk dan mempersiapkan produksi skala lebih besar.

Program PAG sendiri sudah berjalan sejak akhir tahun lalu. Rangkaiannya cukup panjang, dimulai dengan akselerasi bisnis secara daring. Lalu, berlanjut ke kelas intensif dengan mentor dari Universitas Gadjah Mada.

Di kelas itulah, kesepuluh champion menyusun Business Improvement Plan (BIP) sebuah peta jalan untuk pengembangan usaha, termasuk aspek finansial yang kerap jadi tantangan.

Memasuki Januari 2026, giliran tahap yang lebih praktis: visitasi lapangan. Tim asesor datang langsung ke lokasi usaha para champion. Tujuannya? Mencocokkan dokumen BIP dengan kondisi riil di lapangan, mulai dari aset, kapasitas produksi, hingga stok bahan baku. Ini jadi dasar penetapan data awal.

Tak hanya itu, visitasi juga untuk mematangkan target bulanan yang terukur, atau yang dikenal sebagai OKR. Target ini nantinya jadi acuan pemantauan kinerja dan bahkan persyaratan pencairan hibah. Di sisi lain, tim juga memverifikasi kesiapan untuk skema kolaborasi atau agregasi dengan UMKM lain.

Intinya, melalui PAG, Pertamina ingin komitmennya jelas terlihat: mendorong UMKM pangan jadi pelaku usaha yang solid, kompetitif, dan punya kontribusi riil. Bukan hanya untuk ekonomi, tapi juga untuk ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat Indonesia.

Sebagai perusahaan energi, Pertamina juga menegaskan bahwa program seperti ini adalah bagian dari komitmen keberlanjutan mereka. Semua upaya dijalankan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip ESG, selaras dengan transformasi perusahaan yang berorientasi pada tata kelola yang baik dan dampak sosial.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar