Jangkauan distribusinya sudah menjalar jauh: merangkul Papua, Kalimantan, hingga NTT. Untuk segmen coffee shop dan ritel di Sulawesi, pangsa pasarnya bahkan menyentuh 80-90%.
Di balik kesuksesan itu, ada proses produksi yang ketat. Setiap bulan, Dainichi mampu menghasilkan sekitar 5.000 botol gula aren dengan beragam varian: cair, bubuk, dan cube. Mereka menggandeng 500 mitra petani di Bone, Sinjai, dan Malino untuk menjaga stok bahan baku, terutama saat musim kemarau dimana air nira susah didapat.
Kualitas jadi perhatian utama. Pengawasan dilakukan ketat, mulai dari kebun petani hingga gudang penyimpanan. Salah satu kunci keunggulan produknya ada di kadar air.
"Tingkat kekeringan yang tinggi ini memastikan rasa yang lebih kuat (bold) dan tidak hambar (watery) saat dicampur dengan espresso," jelas Ridwan soal gula bubuknya yang dijaga kadar airnya di level 2%.
Ke depan, ambisi Ridwan makin besar. Ekspansi ke Jawa dan Sumatra sudah di depan mata. Dia juga berencana meluncurkan produk hilir, seperti Sarabba instan, untuk menggeser kebiasaan konsumsi gula aren dari sekadar di kafe ke ranah rumah tangga.
Dengan 36 karyawan yang kini dipekerjakan, skala usaha ini tak lagi main-main. Mereka bersiap meningkatkan status produksi dari rumahan ke pabrikasi tahun depan. Persiapan infrastruktur sedang dikebut.
"Potensi pasar lokal masih sangat besar, bahkan kafe-kafe besar di Jakarta semuanya menggunakan gula aren. Kami sedang bersiap untuk masuk ke pasar nasional secara lebih agresif," pungkasnya penuh keyakinan.
Dari bahan baku yang nyaris terbuang, kini jadi penguasa pasar. Perjalanan Ridwan dan Dainichi membuktikan, peluang kerap bersembunyi di balik masalah yang paling dekat dengan kita.
Artikel Terkait
MRP Papua Tengah Desak Pemerintah Ubah Pendekatan Keamanan di Papua
Mediasi Rachel Vennya dan Okin Mulai Berjalan, Ada Titik Terang Damai
Dewi Perssik Laporkan Penyalahgunaan Data Pribadi untuk Akun Palsu ke Polda Metro Jaya
Premanisme di Tanah Abang: Pedagang Bakso Jadi Sasaran, Polda Metro Jaya Janji Tindak Tegas