“Seharusnya, jika konflik ini dilatarbelakangi SARA, sangat mudah bagi pelaku untuk membedakan rumah mana yang berpenghuni Nasrani dan Muslim. Namun kenyataannya, penyerangan tersebut dilakukan tanpa membedakan agama korban,” papar Wahyu.
Polda Maluku Utara kini berusaha keras meredakan situasi. Masyarakat diimbau agar tak gampang terpancing oleh informasi, terutama yang berseliweran di media sosial. "Tetap tenang," pesannya. Semua pihak diminta percayakan penyelesaian masalah ini kepada polisi dan aparat penegak hukum.
Mereka juga berharap komitmen bersama untuk menjaga keamanan. Proses hukum terhadap pelaku kekerasan dan penyebar hoaks harus didukung.
Upaya penanganan ini tak lepas dari bantuan banyak pihak. Polisi mengapresiasi peran Danrem 152 Babullah Brigjen TNI Enoh Solehudin, Dandim 1512 Weda Letkol Inf Fachrozie Fanani, Bupati Halmahera Tengah Ikram Malan Sangadji, plus tokoh masyarakat setempat. Kerja sama mereka dinilai krusial untuk meredam konflik.
Kini, polisi memastikan proses hukum akan ditegakkan. Mereka berjanji akan bekerja secara profesional, transparan, dan tentu saja, adil. Harapannya, ketegangan di dua desa itu segera mereda dan tak ada lagi bara yang tersisa.
Artikel Terkait
Persita Hadapi Arema di Banten, Momentum dan Tekanan Jadi Bahan Pertimbangan
Tiga Orang Luka-Luka dalam Kecelakaan Truk Kontainer di Turunan Silayur Semarang
Ketua Parlemen Iran: Waktu AS dan Israel Patuhi Gencatan Senjata di Lebanon Hampir Habis
Polisi Tangkap Pelaku Penculikan dan Penyekapan Anak 10 Tahun di Cirebon