Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA

- Jumat, 10 April 2026 | 09:00 WIB
Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA

“Seharusnya, jika konflik ini dilatarbelakangi SARA, sangat mudah bagi pelaku untuk membedakan rumah mana yang berpenghuni Nasrani dan Muslim. Namun kenyataannya, penyerangan tersebut dilakukan tanpa membedakan agama korban,” papar Wahyu.

Polda Maluku Utara kini berusaha keras meredakan situasi. Masyarakat diimbau agar tak gampang terpancing oleh informasi, terutama yang berseliweran di media sosial. "Tetap tenang," pesannya. Semua pihak diminta percayakan penyelesaian masalah ini kepada polisi dan aparat penegak hukum.

Mereka juga berharap komitmen bersama untuk menjaga keamanan. Proses hukum terhadap pelaku kekerasan dan penyebar hoaks harus didukung.

Upaya penanganan ini tak lepas dari bantuan banyak pihak. Polisi mengapresiasi peran Danrem 152 Babullah Brigjen TNI Enoh Solehudin, Dandim 1512 Weda Letkol Inf Fachrozie Fanani, Bupati Halmahera Tengah Ikram Malan Sangadji, plus tokoh masyarakat setempat. Kerja sama mereka dinilai krusial untuk meredam konflik.

Kini, polisi memastikan proses hukum akan ditegakkan. Mereka berjanji akan bekerja secara profesional, transparan, dan tentu saja, adil. Harapannya, ketegangan di dua desa itu segera mereda dan tak ada lagi bara yang tersisa.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar