Memang Lebanon tak asing dengan krisis. Tapi intensitas serangan kali ini benar-benar lain. “Ini tantangan besar, terutama bagi kami di Beirut. Kami belum pernah kehilangan begitu banyak orang dalam satu hari. Intensitas seperti ini belum pernah kami alami sebelumnya,” tambahnya.
Dampak Ekonomi dan Krisis Energi yang Menyertainya
Di sisi lain, konflik ini seperti mempercepat laju krisis ekonomi Lebanon yang sudah berlarut sejak 2019. Sektor medis jadi salah satu yang paling terpukul, terhambat oleh pembatasan ekspor-impor dan lonjakan harga minyak global akibat ketegangan regional.
Dr. Alain Kortbaoui, Kepala Departemen Pengobatan Darurat di RS Geitawi, mengaku stok obat-obatan mereka mulai habis.
“Impor obat-obatan sudah terhenti. Kami bahkan tidak bisa memastikan kapan bisa menyembuhkan pasien yang sudah ada di sini,” tuturnya.
Masalah lain adalah ketergantungan rumah sakit pada generator listrik. Ini jadi titik lemah yang krusial. Harga bahan bakar melonjak, biaya operasional membengkak, sementara daya beli masyarakat hancur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memperingatkan, beberapa rumah sakit di Lebanon bisa kehabisan paket medis trauma penyelamat nyawa hanya dalam hitungan hari.
“Perang Tanpa Aturan”
Di Rumah Sakit Hotel-Dieu de France, Dr. Antoine Zoghbi, Presiden Palang Merah Lebanon, menggambarkan situasi ini tak ubahnya “mimpi buruk”. Menurut pengamatannya, serangan yang terjadi tanpa peringatan ini jelas bertujuan menimbulkan kerusakan maksimal pada warga sipil.
“Mereka menyerang banyak wilayah secara bersamaan, dan mereka menyerang dengan keras untuk menimbulkan bahaya, untuk menimbulkan rasa sakit. Ini adalah perang tanpa aturan. Perang tanpa batas,” tegas Dr. Zoghbi.
Solidaritas warga lokal, seperti donor darah, memang tinggi. Namun begitu, para ahli sepakat inisiatif lokal saja tak akan cukup menahan beban jika eskalasi terus berlanjut dalam jangka panjang. Bagi Dr. Zeineldine, solusi untuk menyelamatkan sistem kesehatan Lebanon yang sekarat ini cuma satu.
“Hentikan perang.”
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Ayah dan Anak di Agats Tewas Usai Saling Serang dengan Parang
BPBD DKI Tegaskan Semua ASN WFO, Tak Ada Pengecualian WFH
Oracle PHK Ribuan Karyawan demi Investasi AI, Tapi Gaji CFO Baru Capai Miliaran Rupiah
BEI Ungkap 9 Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi