Di sisi lain, dari Jerusalem, Netanyahu telah memberi sinyal hijau. Sebelumnya, dia mengaku telah meminta kabinetnya untuk memulai pembicaraan langsung dengan perwakilan Lebanon. Ini dianggap sebagai respons atas permintaan Beirut yang disebutnya berulang.
"Mengingat permintaan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya menginstruksikan kabinet kemarin untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin," bunyi pernyataan resmi kantornya, juga dikutip AFP di hari yang sama.
Namun begitu, fokus Israel tampak jelas dan spesifik. Netanyahu menyebut perundingan akan berkutat pada upaya pelucutan senjata Hizbullah. Di balik itu, Israel menyatakan keterbukaannya untuk membangun hubungan damai dengan pemerintah Lebanon. Pernyataan itu bahkan menyebut apresiasi terhadap seruan Perdana Menteri Lebanon untuk demiliterisasi di Beirut.
Jadi, situasinya seperti ini: satu pihak membuka pintu dialog, sementara pihak lain justru mengunci pintu itu dengan kukuh. Jarak antara kedua posisi itu masih terlihat sangat jauh.
Artikel Terkait
WFH Aparatur Pemerintah: Disiplin dan Digitalisasi Kunci Jaga Kualitas Pelayanan Publik
Imigrasi Amankan Tiga Warga Australia Masuk Ilegal ke Merauke via Pesawat Pribadi
Komnas HAM Masih Tunggu Konfirmasi Kehadiran Empat Prajurit TNI Tersangka Penyiraman KontraS
Gubernur DKI Peringatkan Keras PPSU di Town Hall Usai Kasus Manipulasi Aduan JAKI