Namun begitu, ada tantangan teknis yang harus diatasi. Rencana trem ini harus didesain beriringan dengan proyek MRT Jakarta yang juga akan melintas di kawasan serupa. Alignment atau penyesuaian detail mutlak diperlukan agar fungsi dan jalurnya tidak tumpang tindih.
"Kita harus mendesain bersama-sama dengan MRT, karena itu juga akan jadi jalur MRT," jelasnya.
Pada intinya, revitalisasi Kota Tua bukan sekadar soal mempercantik fasad bangunan tua. Lebih dari itu, bagaimana menata ulang akses dan mobilitas bagi warga dan wisatawan. Kehadiran trem, sebagai angkutan rendah emisi, diharapkan bisa menjawab dua hal sekaligus: mengurangi polusi dan memperkuat atmosfer heritage.
"Trem ini salah satu opsi yang sedang kita siapkan. Yang penting desainnya matang dan tidak mengganggu kawasan cagar budaya," imbuh Rano.
Jadi, bayangkan saja. Beberapa tahun ke depan, kita mungkin bisa menikmati perjalanan dengan trem klasik melintasi bangunan-bangunan kolonial. Sebuah perpaduan antara masa lalu dan masa depan, tepat di jantung ibu kota.
Artikel Terkait
Pemadaman Listrik Melanda Sejumlah Wilayah Jakarta, PLN Pastikan Kembali Normal Pukul 20.00 WIB
Pria di Cakung Bacok Kakak Kandung Usai Ditegur Lantaran Diduga Mengintip
Banding Ditolak, Leicester City Tetap Terancam Degradasi Usai Potongan Poin
Kejati DKI Geledah Kementerian PU Terkait Dugaan Korupsi Dana APBN