Asap masih mengepul di Beirut ketika Hizbullah melayangkan kecaman kerasnya. Targetnya jelas: serangan Israel yang dalam beberapa hari terakhir menghantam kawasan sipil di berbagai penjuru Lebanon, termasuk ibukota. Serangan-serangan itu, menurut kelompok tersebut, tak lain adalah bentuk kebrutalan yang mencerminkan kegagalan total Israel di medan perang.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah tak tanggung-tanggung menyebut aksi ini sebagai pembantaian. Mereka mendeskripsikan puluhan serangan udara yang penuh kebencian, menyasar permukiman padat penduduk di Beirut, Saida, dan Lembah Bekaa. Korban berjatuhan. Ratusan tewas dan terluka, banyak di antaranya adalah perempuan, anak-anak, dan orang tua yang tak berdaya.
“Ini kejahatan perang. Bahkan genosida,” begitu kira-kira nada pernyataan mereka. Menurut Hizbullah, menyerang pusat keramaian dan pasar di jam sibuk adalah tindakan putus asa. Sebuah upaya balas dendam yang kotor terhadap warga sipil, setelah mereka gagal mematahkan semangat rakyat Lebanon.
“Rakyat Lebanon telah membuktikan bahwa kebrutalan agresi tersebut justru meningkatkan keteguhan, kekukuhan, dan komitmen mereka terhadap jalur perlawanan, tanpa mempedulikan besarnya pengorbanan yang harus diberikan,”
demikian bunyi pernyataan yang dikutip Al Jazeera, Kamis lalu.
Artikel Terkait
OJK Ingatkan Keterlambatan Bayar Paylater Tercatat di SLIK dan Pengaruhi Skor Kredit
Masjid Al-Aqsa Dibuka Kembali Setelah 40 Hari Ditutup, Suasana Masih Tergantung
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia Hadapi Gejolak Harga Energi Global
KAI Logistik Peroleh Sertifikasi Halal untuk Layanan Pengiriman Retail