“FTTH dan FWA bukan untuk saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. FTTH tetap menjadi backbone utama, sementara FWA berperan mempercepat penetrasi di wilayah yang belum terjangkau fiber,” ungkapnya.
Jadi, bagi MyRepublic, FWA berfungsi sebagai akselerator untuk menjangkau wilayah regional lebih cepat.
Lalu, bagaimana dengan kesiapan teknologinya? Iman Hirawadi dari ZTE Indonesia menyoroti kemajuan pesat perangkat FWA.
“Teknologi FWA saat ini sudah semakin matang dengan dukungan 4G dan 5G. Tantangan berikutnya adalah mencapai skala ekonomi agar perangkat dapat semakin terjangkau,” paparnya.
Artinya, soal teknis bukan lagi kendala utama. Yang perlu dicari sekarang adalah formula agar harganya bisa semakin terjangkau untuk masyarakat luas.
Merza Fachys dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menutup rangkaian pembicara dengan menyoroti keseimbangan.
“Setiap teknologi memiliki peran yang berbeda. Fixed broadband unggul dalam stabilitas, sementara mobile menawarkan fleksibilitas. Yang terpenting adalah bagaimana kebijakan dapat menciptakan ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan,” tuturnya.
Seminar ini, pada akhirnya, lebih dari sekadar pertemuan biasa. Bagi para mahasiswa yang hadir, ini adalah jendela untuk memahami kompleksitas industri yang akan mereka masuki. Bagi ITB, ini adalah bagian dari komitmen lama: tidak hanya berteori di menara gading, tetapi turun langsung menyemai pemahaman dan mendorong kolaborasi nyata.
Harapannya jelas: ekosistem digital Indonesia yang tidak hanya cepat, tetapi juga merata dan bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.
Artikel Terkait
Min Aung Hlaing Resmi Jadi Presiden, Transisi Kuasa Junta Myanmar Dikritik
Polisi dan Petani Banjarbaru Garap 30 Hektare Lahan Jagung untuk Ketahanan Pangan
Tokoh Sejarah di Balik Pesawat Seulawah RI-001, Teungku Nyak Sandang, Wafat di Aceh Jaya
Polisi Selidiki Gas Mematikan di Bak Proyek Jagakarsa yang Diduga Tewaskan Empat Pekerja