Wacana pemotongan gaji menteri sebesar 25% mendapat sorotan. Menanggapi hal itu, Guru Besar Ilmu Ekonomi UMY, Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, menyebut langkah tersebut tepat arah. Terutama di tengah tekanan defisit APBN yang kian terasa berat.
“Pemotongan gaji pejabat merupakan salah satu bentuk kebijakan yang berdampak luas bagi masyarakat untuk memberikan contoh penghematan dan efisiensi anggaran negara,” ujar Imamudin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/4/2026).
Bagi dia, ini bukan cuma soal angka penghematan. Ada nilai simbolis yang jauh lebih kuat di baliknya.
“Ini menunjukkan bahwa upaya efisiensi tidak hanya dibebankan kepada masyarakat, tetapi dimulai dari jajaran pemerintah itu sendiri. Dalam situasi di mana daya beli masyarakat sedang tertekan, sinyal semacam ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan keuangan negara,” imbuhnya.
Namun begitu, langkah simbolis saja jelas tak cukup. Imamudin menegaskan, efisiensi dari pemotongan gaji pejabat tidak akan sanggup menutup tekanan fiskal yang sesungguhnya. Ia pun secara tegas menolak opsi menambah utang luar negeri sebagai solusi.
Alasannya sederhana tapi krusial: utang kita berdenominasi dolar AS. Dengan rupiah yang sudah melemah hingga tembus Rp 17.000 per dolar, nilai utang yang sudah ada saja membengkak dalam hitungan rupiah. Menambah utang baru di saat seperti ini? Menurut Imamudin, itu justru memperburuk beban fiskal kita ke depannya.
Artikel Terkait
Petugas Damkar Jadi Korban Begal dan Penganiayaan di Gambir
KPK Sita Ratusan Juta Rupiah dari Kamar Pribadi Wakil Ketua DPRD Jabar
Petugas Damkar Jadi Korban Begal Brutal di Gambir, Motor dan HP Dibawa Kabur
Polresta Sidoarjo Raih Nilai A dari Ombudsman, Dinilai Sangat Baik