Namun begitu, transformasi ini tidak instan. Semua berawal dari internal. WTJJ menyelaraskan dulu visi, misi, dan pola pikir seluruh jajaran perusahaannya. Baru setelah pondasi itu kuat, mereka membangun kepercayaan dari pihak eksternal.
Implementasinya kemudian diwujudkan dalam hal-hal yang sangat konkret. Fokus utama salah satunya adalah efisiensi energi. Maklum, biaya energi ini merupakan komponen terbesar dalam mengelola sistem air minum.
Mereka sudah mengadopsi teknologi variable speed drive di hampir semua pompa. Hasilnya, konsumsi listrik jadi lebih terukur dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan nyata. Tak cuma itu, perusahaan mulai merambah energi terbarukan dan menerapkan sistem manajemen energi yang ketat. Upaya ini punya dua manfaat sekaligus: mengurangi emisi dan memperkuat ketahanan bisnis untuk jangka panjang.
Proyek yang beroperasi sejak Desember 2024 ini memang punya peran strategis. Ia memperkuat ketahanan air di perkotaan dan mengurangi ketergantungan pada air tanah. Dengan memanfaatkan air permukaan dari Waduk Jatiluhur, WTJJ berupaya menjamin pasokan air bersih yang aman dan berkelanjutan.
Rendy menegaskan satu hal. Investasi di sektor air bukan cuma urusan skema pendanaan yang canggih.
"Ini adalah komitmen jangka panjang untuk keberlanjutan layanan bagi masyarakat," tegasnya.
Ke depan, komitmen integrasi ESG akan terus diperkuat di semua lini bisnis. Dengan tata kelola transparan, manajemen risiko yang solid, serta dampak yang terukur, WTJJ optimis bisa membuka lebih banyak akses pembiayaan. Tujuannya satu: menghadirkan infrastruktur air berkelas dunia yang benar-benar berkelanjutan.
Artikel Terkait
Petugas Damkar Jadi Korban Begal dan Penganiayaan di Gambir
KPK Sita Ratusan Juta Rupiah dari Kamar Pribadi Wakil Ketua DPRD Jabar
Petugas Damkar Jadi Korban Begal Brutal di Gambir, Motor dan HP Dibawa Kabur
Polresta Sidoarjo Raih Nilai A dari Ombudsman, Dinilai Sangat Baik