“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ,” tulisnya.
“Waktu hampir habis 48 jam sebelum semua Neraka akan menimpa mereka. Segala kemuliaan bagi TUHAN!”
Sebenarnya, ini bukan ancaman pertama. Sejak 21 Maret lalu, Trump sudah mengancam akan meluluhlantakkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar. Syaratnya sama: buka selat itu tanpa syarat dalam 48 jam.
Namun begitu, situasinya jadi tak menentu. Dua hari setelah ancaman pertama, Trump tiba-tiba menyebut ada “percakapan yang sangat baik dan produktif” dengan otoritas Iran. Serangan pun ditunda lima hari.
Penundaan itu berlanjut. Tenggat waktu akhirnya bergeser hingga Senin malam, pukul 20.00 waktu setempat. Sampai berita ini diturunkan, ketegangan masih menggantung. Apa yang terjadi selanjutnya? Tak ada yang benar-benar tahu. Pola ancaman dan penundaan Trump justru membuat banyak pengamat kebingungan.
Artikel Terkait
Persib Waspadai Bali United yang Berangkat dengan Moral Tinggi ke GBLA
Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Korupsi Petral, Diduga Mark-up Harga Minyak 2008-2015
Wanita Ditemukan Tewas dengan Luka Gorok di Leher di Rumahnya, Bekasi
Vance Tegaskan Lebanon Tak Termasuk dalam Gencatan Senjata dengan Iran