Puncaknya adalah lomba kreativitas antar unit eselon I. Setiap departemen memamerkan konsep unik dengan kostum yang variatif, mulai dari batik ciprat hingga nuansa kerajaan klasik. Suasana pun riuh rendah.
Penampilan Sekretariat Jenderal, misalnya, benar-benar menyedot perhatian. Dengan tema Mesir kuno, mereka berhasil menghidupkan panggung dan mengajak seluruh audiens untuk menari bersama.
Di sisi lain, transformasi budaya kerja ini juga mendorong perubahan makna dari konsep 'hemat'. Bukan lagi sekadar memotong anggaran atau membatasi, melainkan bekerja dengan lebih tepat sasaran dan efisien. Inilah inti dari 'Gerakan Hemat Energi' yang digaungkan.
Implementasinya bisa dilihat dari langkah-langkah praktis. Seperti kerja dari rumah setiap Jumat, penggunaan kendaraan dinas secara bersama, atau prioritas naik transportasi umum. Penggunaan sumber daya sehari-hari air, listrik, kertas juga dilakukan dengan lebih bijak, didukung percepatan digitalisasi.
Intinya, hemat di sini berarti menghilangkan hal-hal yang tak perlu. Tujuannya satu: agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih fokus dan optimal. "Kemensos Hemat, Layanan Hebat," begitu jargon yang ingin diwujudkan.
Acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wamen Agus Jabo Priyono dan Sekjen Robben Rico itu, pada akhirnya bukan sekadar seremonial. Ia adalah sebuah deklarasi. Langkah awal menuju budaya kerja yang tidak hanya efektif dan adaptif, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong di dalamnya.
Artikel Terkait
FIFA Umumkan 52 Wasit Utama untuk Piala Dunia 2026, Termasuk Enam Wasit Perempuan
Israel Setuju Pembicaraan Langsung dengan Lebanon, Fokus pada Pelucutan Hizbullah
Gubernur DKI Ancam Pecat Oknum yang Manipulasi Laporan di Aplikasi JAKI
Pemprov DKI Godok Koneksi MRT dan KRL Listrik untuk Revitalisasi Kota Tua