Keberadaan UNIFIL di Lebanon selatan sendiri sudah berlangsung lama, tepatnya sejak 1978. Pasca perang antara Israel dan Hizbullah pada 2006, mandat mereka diperkuat dan diperpanjang berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas.
Namun begitu, situasi di lapangan justru memanas belakangan ini. Meski gencatan senjata sebenarnya sudah berlaku sejak November tahun lalu, ketegangan kembali meruncing. Pemicunya adalah serangan lintas batas yang dilakukan kelompok Hizbullah pada awal Maret lalu.
Israel pun membalas. Serangan udara dan darat mereka gencar dilancarkan ke wilayah Lebanon selatan. Imbasnya sangat tragis.
Otoritas Lebanon mencatat, sejak eskalasi terbaru ini, sedikitnya 1.497 orang telah tewas. Korban luka-luka bahkan jauh lebih banyak, angkanya mencapai lebih dari 4.400 orang. Sebuah angka yang sungguh memilukan.
Di tengah situasi yang mencekam ini, seruan Sanchez untuk menghentikan serangan terhadap pasukan perdamaian terdengar lebih mendesak dari sebelumnya. Misi mereka menjaga perdamaian justru menjadi sasaran, sebuah ironi yang pahit.
Artikel Terkait
Anggota DPRD DKI Kritik Balasan Foto AI di Aplikasi JAKI, Desak Sanksi Tegas
Harga Sembako Masih Fluktuatif Pasca-Lebaran, Daya Beli Belum Pulih
Di Gregorio Jadi Pahlawan, Juventus Kalahkan Genoa dan Dekati Zona Liga Champions
Menteri Keuangan Bantah Isu APBN Cuma untuk Dua Pekan, Sebut Sumber dari Internal