Feri Amsari, seorang akademisi hukum tata negara, belakangan ramai diperbincangkan. Sorotan itu muncul setelah ia melontarkan tuduhan soal 'kebohongan swasembada' kepada Presiden Prabowo Subianto.
Tak butuh waktu lama, tanggapan pun berdatangan. Salah satunya datang dari Wakil Ketua Umum PP GP Ansor, H Muh Mabrur L Banuna.
Menurut Mabrur, narasi yang dibangun Feri itu terasa menyesatkan. "Ini tanpa data, tanpa pijakan," tegasnya. Ia menilai pernyataan Feri minim data dan pemahaman teknis, sehingga publik wajar curiga ada agenda terselubung di baliknya.
Bagi Mabrur, pola semacam ini mirip cara kerja mafia pangan: menciptakan keraguan agar kepercayaan publik terkikis. Apa yang disampaikan Feri, dalam pandangannya, bukanlah kritik yang konstruktif. Itu lebih ke arah insinuasi atau opini yang keluar dari ranah kompetensinya sebagai ahli hukum.
"Beda pendapat dan kritik sah saja," katanya blak-blakan. "Tapi argumen tetap harus dibangun di atas data, fakta, dan kompetensi."
Di sisi lain, Mabrur menyebut data justru berbicara keras. Bukan sekadar klaim, melainkan angka resmi yang menunjukkan produksi beras nasional tahun 2025 menguat, diproyeksikan mencapai sekitar 34,69 juta ton. Bahkan lembaga internasional seperti FAO dan USDA menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan Asia. Dalam kondisi produksi naik, stok melimpah, dan penindakan masif, tudingan bahwa swasembada adalah kekeliruan dinilainya tidaklah tepat.
Artikel Terkait
Analis Peringatkan Dampak Ekonomi Jangka Panjang dari Eskalasi AS-Israel-Iran
PSM Makassar Terancam Degradasi Usai 26 Pekan di Dasar Klasemen
FC Barcelona Femenà Hajar Badalona 6-0, Pertegas Dominasi di Liga Spanyol
Napoli Kalahkan AC Milan 1-0 Berkat Gol Penentu Politano