Lalu, bagaimana prosesnya berjalan? Seorang sumber menjelaskan bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, terlibat pembicaraan maraton. Kontak "sepanjang malam" dilakukan dengan Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Waktunya sangat mepet.
Jika tercapai kesepakatan awal, draftnya akan dirumuskan sebagai nota kesepahaman. Uniknya, dokumen itu akan diselesaikan secara elektronik melalui Pakistan yang bertindak sebagai satu-satunya saluran komunikasi untuk semua pihak. Sebuah peran mediasi yang cukup sentral untuk Islamabad.
Secara garis besar, proposal Pakistan itu berisi gencatan senjata segera. Selat Hormuz akan dibuka kembali, lalu ada waktu 15-20 hari untuk merampungkan penyelesaian yang lebih komprehensif dan berjangka panjang.
Kesepakatan sementara yang dijuluki "Kesepakatan Islamabad" ini juga akan memuat kerangka kerja pengelolaan Selat Hormuz. Pembicaraan tatap muka terakhir rencananya bakal digelar di ibu kota Pakistan.
Dan untuk jangka panjang? Sumber tadi menyebut kesepakatan akhir kemungkinan besar mencakup komitmen Iran menahan diri dari pengembangan senjata nuklir. Sebagai imbalannya, sanksi-sanksi internasional akan dicabut dan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri akan dilepaskan. Sebuah tawaran yang, bagi banyak pengamat, bisa menjadi pertukaran besar yang mengubah peta geopolitik kawasan.
Artikel Terkait
Pelaku Pemalakan di Purwakarta Tewaskan Pemilik Hajatan, Ditangkap Usai Buron ke Subang
Supplier MBG Kendal Demo, Tagihan Rp141 Juta Tak Dibayar Koperasi
Wamenristek Sebut Harga Listrik Panas Bumi Masih Lebih Mahal dari Batu Bara
LBH Cianjur Serahkan Data Tambahan ke KPK untuk Laporan Jual-Beli Jabatan