Menurutnya, kehadiran pesawat tanpa awak semacam itu bisa dianggap sebagai bukti "keterlibatan aktif" dalam konflik yang melibatkan Iran. Pernyataan Baghaei ini, seperti dilaporkan South China Morning Post, disampaikan pada Senin (6/4/2026).
Di sisi lain, ada informasi menarik soal pasokan drone untuk Iran. Middle East Eye melaporkan, sebelum perang meledak akhir Februari lalu, Teheran sebenarnya juga mendapat kiriman drone dari China. Tapi jenisnya berbeda. Seorang pejabat intelijen regional menyebut Beijing mengirimkan drone Kamikaze, bukan model canggih seperti Wing Loong yang bisa dipakai berulang kali.
Sementara AS dan Israel sendiri diketahui tidak mengoperasikan drone buatan China. Lain cerita dengan Saudi dan UEA. Keduanya punya persenjataan yang mencakup drone pengintai dan serangan presisi produksi Beijing. Fakta inilah yang membuat insiden Shiraz terasa semakin rumit.
Sebagai bagian dari protesnya, Baghaei bahkan membagikan foto-foto puing drone yang ditembak jatuh itu ke media sosial. Sebuah langkah yang jelas ingin menunjukkan bukti sekaligus menyuarakan kecurigaan mereka.
Artikel Terkait
KPK Kaji Dampak Putusan MK yang Batasi Wewenang Hitung Kerugian Negara
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Ujian Berat Lawan Malaysia di Piala ASEAN
Sidang Perdana TNI Terduga Penculik dan Pembunuh Kacab Bank Dimulai, Hakim Beberkan Peran Masing-masing
Dokter Pribadi Nadiem Diperiksa Hakim Terkait Kondisi Kesehatan Terdakwa