Di sisi lain, peran TNI dalam proses pembangunan ini juga mendapat pujian. Warga masih ingat betul bagaimana jembatan bambu yang lama itu begitu rentan. Setiap kali banjir datang, ia bisa hanyut begitu saja, memutus hubungan antar wilayah.
“Saya terima kasih kepada Bapak-bapak TNI yang semangat bergotong-royong, khususnya dari Kodim 07/24 Boyolali,” kata warga tersebut. “Dulu pakai sasak, kalau hujan dan banjir, ya hanyut. Sekarang semoga tidak lagi.”
Rasa syukur juga diungkapkan oleh Babinsa setempat, Sersan Kepala Asmara. Ia mengaku lega karena usulan yang mengendap belasan tahun itu akhirnya terealisasi. “Alhamdulillah,” ucap Asmara.
Ia punya harapan besar. Jembatan ini, selain memangkas waktu tempuh ke pasar yang jaraknya sekitar dua kilometer juga berfungsi sebagai jalur alternatif yang strategis.
“Bisa untuk ke Pasar Juwangi, memperlancar ekonomi,” katanya. “Ini juga jadi jalur cadangan kalau jalur utama dipakai hajatan atau acara warga. Sekaligus akses menuju Kelurahan dan SDN 1.”
Jadi, bukan cuma sekadar beton yang ditumpuk. Bagi Sambeng, jembatan ini adalah jawaban atas penantian panjang, sebuah penghubung baru yang diharapkan membawa perubahan nyata dalam denyut kehidupan mereka.
Artikel Terkait
Tim Panjat Tebing Indonesia Berangkat ke China, Kejar Tiket Asian Games 2026
Banjir Rendam Ratusan Rumah dan Jalan di Dua Kecamatan Cianjur
Peradi Kucurkan Rp6,7 Miliar untuk Pemulihan Pasca Bencana di Sumbar
Ahmad Muzani Ingatkan Muhammadiyah Waspadai Godaan Pragmatisme