Bahkan, sejak Jumat, suasana di lapangan digambarkan cukup kacau. Rekaman yang beredar menunjukkan warga setempat ada yang membawa bendera dan bahkan senapan berkeliaran di area tertentu. Pihak berwenang Iran konon menjanjikan hadiah bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi tentang "pilot musuh" tersebut.
Sementara kabar dari Tehran begitu vokal, respons dari Pentagon justru sepi. Komando Pusat AS hingga kini belum memberikan tanggapan apa pun terkait nasib pesawat-pesawat yang diklaim ditembak jatuh itu. Keheningan mereka justru menambah teka-teki.
Padahal, Presiden AS Donald Trump sudah lebih dulu mengumumkan kabar "baik". Melalui unggahan di media sosialnya, Trump menyebut pilot yang terluka itu telah ditemukan. "Akan baik-baik saja," tulisnya mengenai kondisi sang pilot yang sempat berlindung di "pegunungan Iran yang berbahaya".
Trump juga membeberkan bahwa operasi penyelamatan itu bukan hal sederhana. Menurutnya, puluhan pesawat terlibat. AS memantau lokasi pilot itu selama 24 jam non-stop dan merencanakan penyelamatan dengan sangat matang.
Jadi, situasinya kini seperti dua narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, Iran mengklaim telah menggagalkan operasi dan menghancurkan pesawat penyelamat. Di sisi lain, AS menyatakan pilotnya sudah aman. Yang jelas, insiden ini semakin memperkeruh hubungan kedua negara yang sudah lama memanas. Dan di gurun Isfahan, asap hitam mungkin telah sirna, tapi ketegangan masih membara.
Artikel Terkait
Muzani dan Haedar Nashir Bahas Geopolitik Global dalam Silaturahmi Halalbihalal
Jurnalis TVRI Luncurkan Antologi Puisi Kolaborasi 181 Penulis ASEAN
Gempa 7,6 SR: Warga Bitung Pulang, Trauma Masih Kuat di Maluku Utara
Patroli Gabungan Brimob dan Polres Jaktim Amankan Remaja Pelaku Miras dan Pelanggaran Lalu Lintas