UNIFIL tak lupa mengingatkan. Mereka menyerukan semua pihak untuk menjaga keselamatan personel dan menghindari kontak senjata di sekitar area operasi. Seruan itu terdengar pilu, mengingat insiden ini adalah babak baru dari rentetan musibah.
Bagaimana tidak? Baru beberapa hari sebelumnya, Indonesia sudah berduka. Praka Farizal Rhomadhon gugur di hari Minggu, 29 Maret, akibat hujan tembakan artileri di dekat Adchit Al Qusayr.
Tragedi berlanjut keesokan harinya. Dua nama lagi harus bergabung dalam daftar korban: Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Mereka gugur saat konvoi yang mereka kawal diserang.
Sampai saat ini, siapa dalang di balik ketiga kematian itu masih menjadi misteri. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Namun begitu, PBB telah memastikan bahwa penyelidikan sedang digeber. Pada Kamis lalu, mereka berjanji hasilnya akan diumumkan secepat mungkin. Dunia menunggu kejelasan, sementara keluarga di tanah air kembali dicekam kecemasan.
Artikel Terkait
Trump Berganti Sikap: Dari Minta Bantuan NATO hingga Ancaman Serbu Iran
Bentrokan Antarwarga di Halmahera Tengah Tewaskan Dua Orang
Target Pertumbuhan 5,4% Terancam Gejolak Harga Minyak dan Defisit APBN
SIM Keliling Bandung Buka di Dua Lokasi Hari Ini untuk Perpanjangan SIM