Pemerintah mengklaim kesiapannya menghadapi ancaman El Nino tahun ini jauh lebih matang. Khususnya soal cadangan pangan, stok yang dimiliki disebut lebih kuat ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Langkah mitigasi pun digenjot, sebuah upaya krusial menyongsong musim kemarau.
“Kami sesuai arahan Bapak Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, mitigasi pertamanya, artinya kami begitu mendengar ada fenomena El Nino yang akan terjadi, tentu kita sudah menyiapkan kewaspadaan,” jelas Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, Sabtu lalu.
“Penguatan cadangan pangan menjadi ujung tombak kita,” tegasnya.
Peringatan datang dari BRIN. Lembaga itu melaporkan El Nino berpotensi menerpa Indonesia, terutama wilayah selatan khatulistiwa, mulai awal Mei nanti. Daerah seperti Lampung, seluruh Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat dan Timur, disebut-sebut akan merasakan dampaknya.
Namun begitu, Bapanas memastikan penguatan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) tak henti dilakukan. Ini berjalan beriringan dengan upaya Kementan menjaga produksi pangan dalam negeri. Peran Bulog sebagai perpanjangan tangan pun dioptimalkan untuk menyerap beras produksi lokal secara intensif.
“Kami berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, tentu di sisi produksi harus diperkuat. Kemudian penyerapan oleh Bulog dalam rangka penguatan CPP menjadi titik krusial yang harus kita lakukan,” ujar Ketut.
Ia menambahkan, Bapanas telah menugaskan Bulog untuk menyerap gabah yang akan diolah jadi beras, sebagai bagian dari strategi penguatan cadangan itu.
Upaya penguatan stok ternyata tak cuma berfokus pada beras. Pemerintah juga menambah stok untuk komoditas lain seperti jagung pakan dan minyak goreng. Ini semua diharapkan jadi modal penting menjamin ketersediaan pangan saat kemarau tiba.
“Dengan adanya penguatan CPP, diharapkan ke depannya tatkala terjadi kekeringan dan lain sebagainya, yang berdampak pada produksi misalkan, nah tentu ini akan bisa menopang ketersediaan pangan yang dimiliki oleh pemerintah,” tutur Ketut. “Itu yang kita lakukan dalam rangka mitigasi awal.”
Lalu, berapa persisnya stok yang ada sekarang? Data per 2 April dari Bapanas menunjukkan beras masih mendominasi dengan 4,4 juta ton. Disusul jagung pakan 168 ribu ton, minyak goreng 121 ribu kiloliter, dan gula pasir 49 ribu ton. Untuk protein, ada daging sapi 8 ribu ton, kerbau 3 ribu ton, serta daging dan telur ayam masing-masing 39 ton dan 17 ton.
Di sisi penyaluran, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras tahun 2026 yang dimulai Maret lalu sudah merealisasikan 70 ribu ton hingga awal April. Sementara untuk bantuan pangan, telah tersalurkan beras 21,3 juta kilogram dan minyak goreng 4,2 juta liter.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Jatuh F-15E dan A-10 AS, Pentagon Bungkam
Trump Tolak Bahas Detail Operasi Penyelamatan Jet AS yang Ditembak Iran
Cadangan Energi Nasional Hanya Bertahan 20 Hari, Pakar UGM Ingatkan Risiko Krisis
Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Aksi Lebih Dahsyat