Trump Berganti Sikap: Dari Minta Bantuan NATO hingga Ancaman Serbu Iran

- Sabtu, 04 April 2026 | 08:05 WIB
Trump Berganti Sikap: Dari Minta Bantuan NATO hingga Ancaman Serbu Iran

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal Iran memang bikin pusing. Seperti angin yang berubah arah, ucapannya tentang konflik AS-Israel dengan Iran bolak-balik terus. Sulit ditebak mana yang bakal jadi kebijakan.

Kita lihat saja rangkaian pernyataannya belakangan ini, terutama sejak Selat Hormuz jadi ajang ketegangan. Awalnya, dia teriak minta tolong. Tapi kemudian, sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajat.

Ingat serangan AS dan Israel akhir Februari lalu? Nah, Iran merespons dengan mengetatkan jalur di Selat Hormuz. Dari situlah drama pernyataan Trump ini dimulai.

Mula-mula Minta Bantuan NATO

Saat selat itu dikencangkan Iran, Trump langsung bersuara. Dia bilang banyak negara yang kena dampak. Harapannya, negara-negara NATO mau kirim bantuan buat buka jalur itu.

"Banyak negara, terutama negara-negara yang terdampak oleh upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz, akan mengirimkan kapal perang, bersama dengan Amerika Serikat, untuk menjaga agar selat tersebut tetap terbuka dan aman," kata Trump pertengahan Maret.
"Mudah-mudahan Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak... akan mengirimkan kapal ke daerah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman."

Eh, Tapi Tiba-tiba Bilang "Tak Butuh Bantuan"

Rupanya respons sekutunya kurang greget. Banyak yang ogah-ogahan. Trump pun langsung ganti haluan. Pada 16 Maret, dengan nada tinggi dia klaim AS bisa jalan sendiri.

"Kita tidak butuh bantuan. Perang itu sudah berlangsung lama menurut saya, hampir sejak hari pertama," ujarnya.

Gak berhenti di situ. Amarahnya kemudian meluncur ke sekutunya sendiri.

Sindiran Pedas untuk NATO

Tanggal 20 Maret, melalui platform media sosialnya, Trump melontarkan kritik tajam. NATO disebutnya cuma macan kertas kalau tanpa Amerika.

"Tanpa AS, NATO HANYA MACAN KERTAS!" tulisnya.

Masih di hari yang sama, sindirannya makin menjadi. Dia mencap sekutunya itu pengecut.

"Sekarang pertempuran telah dimenangkan... mereka mengeluh tentang harga minyak yang tinggi... tetapi tidak ingin membantu membuka Selat Hormuz... Para pengecut, dan kita akan mengingatnya!"

Ancam Tak Bantu Lagi

Marahnya berlanjut. Enam hari kemudian, pada 26 Maret, Trump kembali menyulut api. Dia geram dengan sikap negara sekutu yang dianggapnya tidak bersolidaritas.

"Mereka seharusnya melompat untuk membantu kita, karena selama bertahun-tahun kita telah membantu mereka agar tidak terhindar dari perang," ungkapnya.

Lalu, Siap Akhiri Perang dan Salahkan Orang Lain

Menjelang akhir Maret, nada Trump agak berubah lagi. Dia seolah lepas tangan dan menyuruh negara lain urus sendiri masalah Selat Hormuz.

"Semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet... kumpulkan keberanian yang tertunda, pergilah ke Selat itu, dan ambillah saja..." tuturnya pada 31 Maret.

Di hari yang sama, dia malah bicara soal akhir perang. Optimis. Dia perkirakan konflik bakal beres dalam dua minggu, bahkan tanpa perlu ada kesepakatan khusus.

"Kita sedang menyelesaikan pekerjaan ini, dan saya pikir mungkin dalam dua minggu, mungkin beberapa hari lebih lama, untuk menyelesaikan pekerjaan ini," ujar Trump.

Tapi Besoknya, Ancaman Serang Lagi

Seakan lupa dengan kata "menyelesaikan" yang dia ucapkan kemarin, keesokan harinya Trump kembali menggebrak. Dalam pidato di Gedung Putih tanggal 1 April malam, ancamannya lebih keras dari sebelumnya. Iran, katanya, harus dibawa mundur ribuan tahun.

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan," kata Trump.
"Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada."

Begitulah. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, pernyataannya berganti dari minta tolong, marah-marah, sampai ancaman penghancuran total. Sebuah roller coaster diplomatik yang membuat banyak pihak, mungkin termasuk stafnya sendiri, hanya bisa menghela napas.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar