Badai Gaza: Hujan Deras Menguak Tragedi Kemanusiaan yang Semakin Parah

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 01:25 WIB
Badai Gaza: Hujan Deras Menguak Tragedi Kemanusiaan yang Semakin Parah

Hujan deras dan badai yang melanda Gaza tak hanya membasahi tanah. Bencana alam itu justru menguak sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih dalam dan memilukan. Pemerintah Indonesia, bersama sejumlah negara Timur Tengah, menyuarakan keprihatinan serius atas memburuknya situasi di Jalur Gaza. Cuaca buruk disebut-sebut memperparah kondisi yang sudah sangat mengenaskan di sana.

Lewat sebuah pernyataan di akun X pada Jumat (2/1/2026), Kementerian Luar Negeri RI merinci negara-negara yang turut bersuara. Mereka adalah Kerajaan Hashemite Yordania, Uni Emirat Arab, Republik Indonesia, Republik Islam Pakistan, Republik Turki, Kerajaan Arab Saudi, Qatar, dan Republik Arab Mesir. Intinya sama: prihatin dan mendesak aksi.

Menurut pernyataan itu, para menteri dari negara-negara tersebut menggambarkan situasi yang nyaris tak tertahankan.

"Cuaca buruk ini benar-benar menunjukkan betapa rapuhnya kondisi kemanusiaan di Gaza," tulis Kemlu RI, menyitir pernyataan bersama.

Bayangkan saja: hampir 1,9 juta pengungsi terpaksa bertahan di tempat penampungan yang sama sekali tidak layak. Kamp-kamp terendam banjir. Tenda-tenda robek dan ambruk. Bangunan yang sudah rusak pun akhirnya runtuh diterjang cuaca. Ditambah suhu dingin yang menggigit dan ancaman wabah penyakit, risiko bagi warga sipil terutama anak-anak, perempuan, dan lansia melonjak drastis. Nyawa mereka taruhannya.

Di sisi lain, upaya bantuan dari organisasi kemanusiaan internasional, termasuk badan PBB seperti UNRWA, mendapat apresiasi. Namun, para menteri menegaskan, Israel punya kewajiban kunci.

"Mereka menuntut agar Israel memastikan PBB dan LSM internasional dapat beroperasi di Gaza dan Tepi Barat secara berkelanjutan, dapat diprediksi, dan tanpa batasan," tegas pernyataan itu.

Hambatan apa pun terhadap kerja-kerja kemanusiaan dinilai tak bisa diterima. Mengingat peran vital mereka, operasi yang lancar adalah sebuah keharusan.

Tak berhenti di situ, dukungan penuh juga kembali ditegaskan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 serta rencana Komprehensif Presiden AS Donald Trump. Komitmen untuk berkontribusi pada implementasi rencana itu dinyatakan, dengan harapan dapat mempertahankan gencatan senjata, mengakhiri perang, dan membuka jalan bagi masa depan Palestina yang lebih bermartabat.

Dalam kerangka itulah, mereka mendesak dimulainya upaya pemulihan awal. Penyediaan tempat tinggal yang layak dan manusiawi menjadi prioritas mendesak untuk melindungi penduduk dari ganasnya musim dingin.

Seruan terakhir ditujukan pada komunitas global. Tekanan hukum dan moral harus ditegakkan untuk mendesak Israel mencabut segala pembatasan terhadap bantuan. Mulai dari tenda, obat-obatan, air bersih, bahan bakar, hingga dukungan sanitasi semuanya harus bisa masuk.

"Bantuan kemanusiaan harus mengalir penuh, segera, dan tanpa halangan ke Jalur Gaza," imbuh pernyataan tersebut.

Rehabilitasi infrastruktur dan rumah sakit, serta pembukaan Penyeberangan Rafah secara dua arah sesuai rencana Trump, juga menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Situasinya genting. Waktunya hampir habis.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar