SMPN 26 Takengon Bersih dari Lumpur, Siap Kembali Gelar Pembelajaran

- Selasa, 17 Februari 2026 | 16:45 WIB
SMPN 26 Takengon Bersih dari Lumpur, Siap Kembali Gelar Pembelajaran

TVRINews, Aceh Tengah

Bencana memang sudah berlalu, tapi bekasnya masih terasa. Di Aceh Tengah, sejumlah sekolah sempat lumpuh diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Kabar baiknya, kini proses pemulihan mulai terlihat. Personel TNI AD memastikan, sekolah-sekolah yang rusak itu sudah diperbaiki dan siap dipakai lagi.

Ambil contoh SMPN 26 Takengon di Desa Reje Payung. Sekolah itu, Sabtu lalu (14/2/2026), akhirnya bersih dari tumpukan material lumpur dan kayu. Setelah berhari-hari tertimbun, ruang-ruang kelas kini bisa kembali diisi suara siswa.

Melalui Bati Tuud Koramil 05/Linge Serka M.T Hasibuan, Komandan Kodim 0106/Aceh Tengah Letkol Inf Raden Herman Sasmita mengungkapkan, kerusakan di SMPN 26 termasuk parah.

“Sebanyak enam unit bangunan sekolah terdampak langsung, termasuk gedung dewan guru, ruang belajar siswa, perpustakaan, mess sekolah, serta rumah guru. Secara keseluruhan, ada 10 ruangan yang harus dibersihkan dari lumpur dan sisa material kayu,” jelas Herman, Selasa (17/2/2026).

Menurut penuturannya, ketinggian endapan lumpur dan kayu yang menimbun bangunan sempat mencapai 50 hingga 70 sentimeter. Wajar saja kalau aktivitas belajar terpaksa dihentikan.

Namun begitu, upaya pembersihan yang digarap sejak 19 Januari lalu akhirnya tuntas juga. Herman menyebut prosesnya kini mencapai 100 persen. Seluruh ruangan sudah bebas lumpur.

“Dinding bagian dalam dan luar gedung telah dibersihkan, dan area lingkungan sekolah juga sudah dirapikan,” katanya.

Pekerjaan berat ini tak dikerjakan sendirian. Ada empat personel Kodim setempat, ditambah 20 personel Yonif TP 854/DK yang dipimpin Sertu Oein Zulkarnain. Lima warga sekitar juga turun tangan bergotong royong.

Jalan mereka tentu tidak mulus. Herman mengakui tim sempat menghadapi kendala serius. Banyaknya batang kayu sisa banjir, lumpur yang mengeras, kurangnya air bersih, plus perlengkapan kerja yang terbatas sempat memperlambat pekerjaan.

Tapi rupanya, semua itu bisa diatasi. “Namun, hambatan tersebut dapat diatasi melalui koordinasi dan kerja sama di lapangan,” imbuhnya.

Meski bangunan sudah bersih, masih ada sedikit pekerjaan tersisa. Rehabilitasi ringan seperti pengecatan ulang gedung masih akan dilakukan. Tujuannya jelas: agar kegiatan belajar mengajar bisa kembali normal secepatnya.

Upaya ini bukan cuma soal membersihkan bangunan. Lebih dari itu, ini bagian dari komitmen TNI untuk mendukung pemulihan fasilitas publik pascabencana khususnya di sektor pendidikan Aceh Tengah. Setelah trauma, harapan pun mulai dibangun kembali, dimulai dari ruang-ruang kelas yang kembali terang.

Penulis: Ridho Dwi Putranto
Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar