MURIANETWORK.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan serangkaian kejadian banjir di wilayah Jawa Tengah pada pertengahan Februari 2026. Banjir yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi tersebut merendam ratusan rumah dan fasilitas publik di Kabupaten Pemalang dan Tegal. Sementara itu, otoritas meteorologi memperingatkan potensi cuaca ekstrem yang masih mengancam dalam beberapa hari ke depan, mendorong imbauan kesiapsiagaan kepada pemerintah daerah dan masyarakat.
Banjir Melanda Permukiman dan Fasilitas Publik di Pemalang
Kejadian diawali di Kabupaten Pemalang pada Minggu, 15 Februari 2026. Hujan lebat yang turun berjam-jam menyebabkan Kali Rambut meluap. Aliran air dengan cepat membanjiri empat desa di Kecamatan Pemalang, yaitu Tambakrejo, Bojongnangka, Wanamulya, dan Lawangrejo. Dampaknya cukup signifikan, dengan 1.445 unit rumah terendam.
Tidak hanya permukiman warga, bencana ini juga melumpuhkan aktivitas publik. Tercatat tiga fasilitas umum, tiga belas gedung pendidikan, tujuh tempat ibadah, dan satu unit pabrik ikut tergenang air. Menghadapi situasi ini, tim BPBD setempat segera turun ke lokasi dengan membawa perahu karet untuk membantu evakuasi dan mobilitas warga yang terdampak.
Kondisi mulai menunjukkan perbaikan pada Senin pagi. Intensitas hujan yang mulai mereda membuat genangan air berangsur surut, meski pekerjaan pembersihan dan pendataan kerusakan masih terus dilakukan.
Korban dan Kerusakan di Kabupaten Tegal
Nasib serupa dialami oleh warga di Kabupaten Tegal hanya sehari kemudian, tepatnya pada Senin, 16 Februari 2026. Kali ini, luapan berasal dari Sungai Cacaban yang tidak mampu menahan debit air akibat hujan lebat. Dua kecamatan, Kramat dan Suradadi, menjadi wilayah terparah yang diterjang banjir.
Data sementara dari BPBD mencatat 896 rumah terdampak, dengan satu unit di antaranya mengalami kerusakan berat. Lebih menyedihkan lagi, peristiwa ini juga menimbulkan korban jiwa. Satu warga dilaporkan mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan.
Merespons hal ini, pihak berwenang tidak hanya fokus pada tanggap darurat. BPBD Kabupaten Tegal bersama instansi terkait dengan sigap mendirikan dapur umum dan menyalurkan bantuan kebutuhan pokok untuk meringankan beban warga. Upaya tersebut tampaknya berjalan efektif, sebab banjir dilaporkan telah surut pada hari yang sama.
Peringatan Dini dan Imbauan Kesiapsiagaan
Di tengah upaya pemulihan di dua wilayah tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan yang perlu diwaspadai. Prakiraan cuaca untuk tanggal 17 hingga 19 Februari 2026 menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Menyikapi prakiraan ini, BNPB secara proaktif mengeluarkan imbauan resmi. Lembaga tersebut menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.
BNPB menggarisbawahi bahwa kesiapsiagaan merupakan kunci utama. Masyarakat diharapkan dapat secara rutin memantau perkembangan informasi cuaca dari sumber resmi, menjaga kelancaran saluran air di lingkungannya, serta menyiapkan rencana evakuasi keluarga. Khususnya jika hujan dengan intensitas lebat berlangsung lebih dari satu jam atau disertai dengan angin kencang yang mengurangi jarak pandang.
Di sisi lain, peran pemerintah daerah dinilai sangat krusial. Koordinasi yang solid antara BPBD dan dinas terkait mutlak diperlukan. Mereka diharapkan dapat memastikan kesiapan penuh personel, kelengkapan peralatan logistik, serta kejelasan jalur evakuasi. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi jika kondisi darurat benar-benar terjadi di lapangan.
Artikel Terkait
Sidang Isbat Tentukan Awal Ramadan 2026, Potensi Selisih dengan Muhammadiyah
BTS Telkomsel Akhirnya Hadir, Akhiri Isolasi Digital di Nagari Garabak Data
RUU KKS Dikhawatirkan Jadi Alat Represi Baru di Ruang Digital
Israel Kerahkan Pasukan Besar-besaran di Al-Aqsa Jelang Ramadan, Palestina Protes Pembatasan Akses