"Volume kendaraan sangat tinggi, perbandingan antara panjang jalan dan jumlah kendaraan tidak seimbang. Maka harus ada intervensi rekayasa lalu lintas."
Di sisi lain, operasi ini juga menuntut pendekatan yang lebih personal. Anggota Polri di lapangan tidak sekadar menjadi pengatur jalan. Mereka juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang humanis memberi informasi, bantuan, dan imbauan keselamatan kepada para pemudik. Ini sejalan dengan semangat operasi kemanusiaan yang digaungkan.
"Operasi Ketupat ini adalah operasi kemanusiaan," lanjut Agus menegaskan.
"Anggota di lapangan tidak hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga membantu masyarakat selama perjalanan mudik. Semua itu harus dikelola dengan pendekatan kemanusiaan."
Lalu, bagaimana hasilnya? Ternyata upaya keras itu membuahkan angka yang cukup menggembirakan. Selama Operasi Ketupat 2026 dan masa Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD), statistik kecelakaan lalu lintas berhasil ditekan. Angka kejadiannya turun sekitar 5,31 persen. Yang lebih penting, fatalitas atau jumlah korban meninggal dunia anjlok signifikan, mencapai 30 persen.
"Berdasarkan data, angka kecelakaan selama Operasi Ketupat turun sekitar 5,31 persen dan fatalitas korban meninggal dunia turun sekitar 30 persen," tutup Kakorlantas mengakhiri paparannya.
Sebuah pencapaian yang, meski di tengah kepadatan luar biasa, patut diapresiasi.
Artikel Terkait
Sari Roti Ekspansi ke Industri Pakan Ternak, Manfaatkan Roti Sisa Produksi
Operasi Damai Cartenz Tangkap Anggota KKB Terduga Pelaku Penyerangan ke Tito Karnavian di 2012
Lebih dari 2.500 Pengunjung Padati Kawasan Monas Saat Libur Jumat Agung
Apindo Desak Pemerintah Beri Stimulus Terarah untuk Industri Padat Karya Antisipasi Dampak Perang