"Ini menunjukkan branding yang kuat," ujarnya. "Bahkan bisa menjual dengan harga paling tinggi."
Lalu, solusi apa yang ditawarkan? Rosiade punya beberapa ide. Pertama, soal aset menganggur. Gedung atau fasilitas tak terpakai harus dioptimalkan, misalnya dengan disewakan, untuk menambah pemasukan. Kedua, strategi pemasaran harus lebih jitu dan turun ke akar rumput.
"Turun ke lapangan, pahami toko, mandor, tukang, sampai pemilik rumah," imbuhnya. Promosi lewat media sosial seperti TikTok, katanya, jauh lebih murah dan tepat sasaran.
Sebagai penutup rapat, Komisi VI menerima laporan evaluasi kinerja 2025 beserta rencana pengembangan untuk 2026. Ada juga permintaan untuk meningkatkan kompetensi tenaga konstruksi lewat pelatihan.
Yang tak kalah penting, perusahaan diminta menyiapkan peta jalan jangka pendek dan panjang yang lebih komprehensif. Mereka juga harus mengantisipasi kemungkinan naiknya harga batu bara. Rosiade menegaskan satu hal: target Return on Assets (ROA) yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto untuk semua BUMN, harus dicapai. Tidak ada tawar-menawar untuk itu.
Artikel Terkait
NTP Bangka Belitung Naik Tipis ke 154,86 di Maret 2026, Biaya Produksi Masih Tekan
Balita Tewas Diserang Monyet Peliharaan di Pamekasan
Ketua Komisi III Bantah Intervensi Kasus Videografer Amsal
Gunung Rinjani Resmi Dibuka, Kuota Jalur Utara Terpenuhi