Rapat di Komisi VI DPR RI pada Rabu lalu cukup panas. Andre Rosiade, sang Wakil Ketua, tak sungkan menyampaikan kritik pedasnya terhadap bisnis semen di Indonesia. Intinya sederhana: perusahaan harus lebih efisien, dan fokus pada bisnis inti. Rapat yang membahas evaluasi kinerja 2025 dan peta jalan untuk tahun depan itu, berlangsung serius.
Menurut Rosiade, sudah waktunya untuk merampingkan struktur. "Kalau memang yang tidak penting dan tidak perlu, lebih baik dibubarkan saja," tegasnya dalam keterangan tertulis di hari berikutnya, Kamis (2/4/2026).
"Jangan sampai menjadi beban perusahaan."
Peringatannya jelas: jangan asal melakukan diversifikasi. Ekspansi ke bidang yang tidak relevan justru bisa bikin kinerja korporasi terganggu. Fokuslah pada apa yang menjadi tulang punggung usaha.
Di sisi lain, beban utang PT Semen Indonesia juga jadi sorotan. Rosiade mengaitkannya dengan ekspansi dan akuisisi di masa lalu, termasuk pembelian Solusi Bangun Indonesia. Ini, dalam pandangannya, perlu jadi perhatian serius.
Lucunya, meski beban utang tinggi, branding perusahaan dinilainya kuat. Ia mencontohkan harga semen di Sumatera Barat yang disebut-sebut tertinggi se-Indonesia. Menurut dia, hal itu tak lepas dari kuatnya citra yang dibangun, salah satunya lewat klub sepak bola Semen Padang FC.
Artikel Terkait
NTP Bangka Belitung Naik Tipis ke 154,86 di Maret 2026, Biaya Produksi Masih Tekan
Balita Tewas Diserang Monyet Peliharaan di Pamekasan
Ketua Komisi III Bantah Intervensi Kasus Videografer Amsal
Gunung Rinjani Resmi Dibuka, Kuota Jalur Utara Terpenuhi