Dari Balik Tembok Lapas, Panen dan Harapan Tumbuh Bersama

- Senin, 05 Januari 2026 | 17:50 WIB
Dari Balik Tembok Lapas, Panen dan Harapan Tumbuh Bersama

Awal 2026, ada geliat yang menarik dari balik tembok-tembok lembaga pemasyarakatan. Di beberapa lapas, kegiatan bercocok tanam mulai menunjukkan hasil. Mulai dari panen sayuran segar hingga upaya serius melindungi tanaman jagung dari terpaan angin kencang agar tidak gagal panen.

Ini bukan sekadar kegiatan iseng. Program ketahanan pangan ini merupakan turunan dari visi pemerintah yang dijalankan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Menteri Agus Andrianto melihat potensi besar dari lahan-lahan sisa di kompleks lapas. Tujuannya ganda: mendukung swasembada sekaligus membuat warga binaan lebih produktif.

Di Lapas Kelas IIB Atambua, NTT, suasana cukup riuh pada suatu Sabtu di awal Januari. Petugas dan sejumlah narapidana sedang memanen sawi. Hasilnya lumayan: 250 kilogram. Empat orang yang menekuninya selama sebulan penuh tampak puas.

“Kami selalu memberikan mereka semangat bahwa mengelola tanaman membutuhkan ketelatenan dan kesabaran,” jelas Andra Sukabir, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja.

Menurut Andra, jalan menuju panen tak selalu mulus. Cuaca panas dan persediaan air yang terbatas sempat jadi kendala. Solusinya? Mereka membangun sistem drainase yang lebih baik untuk mengatasinya.

Seorang narapidana bernama Matias berbagi cerita. “Proses budidaya sawi ini benar-benar mengajarkan kami untuk disiplin dan menghargai proses. Di sini saya belajar, tanah bisa memberi kehidupan kalau kita mau mengusahakannya. Rasanya, panen ini membuat saya merasa berguna lagi.”

Sukses dengan sawi, pihak lapas sudah punya rencana lanjutan. Lahan yang ada akan dimaksimalkan untuk menanam cabai, tomat, bahkan sayuran hidroponik.

Lebih Dari Sekadar Sayur: Lahirnya VCO La'Bua

Tak cuma urusan tanah, Lapas Atambua juga menggarap produk olahan. Mereka memproduksi virgin coconut oil atau VCO. Bermodal 50 buah kelapa pilihan, para warga binaan mengolahnya selama lima hari penuh mulai dari pengupasan hingga perendaman parutan.

“Kuncinya ada pada ketelitian ekstraksi santan dan masa fermentasi selama dua kali 24 jam,” ujar Andra lagi. “Kami harus pastikan pemisahan minyak dan airnya sempurna sebelum dikemas.”

Dari proses itu, dihasilkanlah 30 botol VCO ukuran 100 ml. Produk itu mereka beri nama VCO La'Bua, yang sudah punya NIB dan izin PIRT.

Pelatihan pembuatannya sendiri digelar pada November 2025. Bagi narapidana seperti Nico, pelatihan ini membuka pandangan baru. “Kami jadi punya kepercayaan diri untuk membuka usaha sendiri setelah bebas nanti. Jadi, tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” katanya.

Dari Dalam Tembok untuk Pasar Lokal

Kepala Lapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, menegaskan bahwa lapas harus lebih dari sekadar tempat hukuman. “Ini adalah pusat pelatihan yang bisa berkontribusi nyata untuk ketahanan pangan nasional,” ujarnya.


Halaman:

Komentar