Di sisi lain, tarik-ulur penanganan perkara ini justru memantik masalah lain. Gus Salam yang juga Ketua Pengurus Harian Yayasan GPSI ini menyoroti soal transparansi. Atau lebih tepatnya, ketiadaan transparansi itu.
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus ini memang bikin banyak orang bergidik. Ia mengingatkan kita pada teror serupa yang dulu menimpa mantan penyidik KPK, Novel Baswedan. Gus Salam lantas mengingatkan, masyarakat kritis adalah pilar demokrasi. Hubungan negara dan rakyat diikat hak asasi manusia, yang dalam agama pun punya tujuan mulia: melindungi nyawa dan kesehatan berpikir.
Namun begitu, ada secercah harapan. Gus Salam mengapresiasi langkah Komisi III DPR RI yang menggelar Rapat Dengar Pendapat. Rapat yang melibatkan elemen masyarakat sipil dan direktur reskrim Polda Metro Jaya itu diharapkan bisa mendalami kasus ini lebih jauh.
Kini, bola ada di pihak PBNU. Maukah mereka menjawab harapan itu?
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen