"Jangan hanya jadi proyek tanpa output yang nyata."
Khusus untuk kasus Pasar Kramat Jati, ada pesan langsung untuk pengelolanya. Ali meminta agar pemilahan sampah dilakukan sejak dari sumber, dan pengangkutan rutin setiap hari harus dipastikan tanpa ada celah untuk menunda.
"Jangan sampai persoalan ini berkembang menjadi krisis lingkungan dan kesehatan," imbuhnya. Tekanannya jelas: Pemprov harus bergerak cepat. Pola kerja biasa-biasa saja sudah tak relevan lagi.
Kondisi Lapangan: Tembok Jebol dan Bau Menyengat
Desakan Ali Lubis bukannya tanpa alasan. Di Pasar Induk Kramat Jati, kondisi sudah cukup parah. Tumpukan sampah yang terus membesar bahkan menyebabkan tembok pembatas antara gunungan sampah dengan kali dan permukiman warga jebol. Sampah pun meluber ke mana-mana.
Dari pantauan di lokasi, tembok itu persis berada di sisi kali. Kerusakannya ada di dua titik. Satu bagian jebol selebar kira-kira 10 meter, sementara titik lainnya sekitar 2 meter.
Tuswadi, warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi, bercerita. Kerusakan yang selebar 2 meter itu terjadi sekitar pertengahan Maret lalu. "Jebolnya malam-malam gitu," katanya. Sedangkan yang lebih besar sudah terjadi sejak dua bulan sebelumnya.
Dampaknya langsung dirasakan. Tuswadi mengeluhkan bau menyengat yang tak tertahankan, datang dari gunungan sampah itu setiap hari.
Persoalan serupa ternyata tidak hanya terjadi di Kramat Jati. Di kawasan Slipi, sampah juga meluber ke jalanan. Bau menyengat dan air lindi yang mengalir ke badan jalan jelas mengganggu kenyamanan, bahkan keselamatan, pengendara yang melintas. Sepanjang Jalan Inspeksi hingga mendekati Pasar Palmerah, tumpukan-tumpukan sampah terlihat mengganggu pemandangan dan menimbulkan aroma tak sedap. Situasinya memang mendesak untuk segera diatasi.
Artikel Terkait
Pria di Magetan Cabuli Korban dengan Modus Mengaku sebagai Allah
Program Makan Bergizi Gratis di Sultra Ciptakan Ribuan Lapangan Kerja Baru
Megawati Serukan Persatuan Politik Tuntut Keadilan atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Pasangan Muda-Mudi Diguyur Air Warga Usai Ketiduran Berpelukan di Musala Pantai Logending