Megawati Serukan Persatuan Politik Tuntut Keadilan atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon

- Kamis, 02 April 2026 | 11:35 WIB
Megawati Serukan Persatuan Politik Tuntut Keadilan atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Rasa duka mendalam diungkapkan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Ini menyusul kabar pilu gugurnya tiga prajurit TNI, bagian dari Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), akibat serangan Israel. Dalam kesedihan itu, Megawati tak lupa mengajak seluruh elemen politik untuk bersatu. Tujuannya jelas: menuntut keadilan bagi ketiga prajurit yang telah gugur itu.

Ajakan itu disampaikan lewat sebuah surat edaran internal partai, yang ditandatangani Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Ahmad Basarah pada Senin (30/3). Lewat surat tersebut, Megawati juga sudah memberi perintah tegas kepada seluruh jajaran partainya. Intruksinya: berikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para almarhum.

Isi surat itu cukup menyentuh. Tertulis jelas, "Megawati Soekarnoputri dan seluruh keluarga besar PDI Perjuangan menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya Prajurit TNI Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL Praka Farizal Rhomadhon yang gugur sebagai kusuma bangsa dalam menjalankan tugas negara sebagai pasukan yang tergabung dalam misi perdamaian PBB di Lebanon."

Namun begitu, duka tak cuma diungkapkan lewat kata-kata. Partai yang berlogo banteng itu pun berkomitmen untuk turun tangan langsung.

"Keluarga besar PDI Perjuangan juga akan bergotong royong membantu keluarga korban, termasuk pemberian santunan rumah ataupun ke depan beasiswa bagi anaknya yang saat ini baru berusia 2 (dua) tahun,"

Begitu bunyi kelanjutan surat edaran tersebut, yang dikutip pada Kamis (2/4/2026).

PDIP menilai pengorbanan para prajurit itu bukan hal sepele. Mereka menyebutnya sebagai perisai bangsa, sebuah perwujudan nyata dari amanat konstitusi UUD 1945. Penghormatan mereka sampaikan setinggi-tingginya.

Surat itu juga menyinggung prestasi panjang Indonesia di panggung perdamaian dunia. Selama hampir tujuh dekade, Kontingen Garuda disebutnya sebagai mahkota diplomasi. Buktinya, bangsa ini tak cuma bicara soal perdamaian, tapi juga rela berkorban nyata untuk mewujudkannya di bawah bendera PBB. Sebuah pengorbanan yang, sekali lagi, dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar