Kerbau kerap menjadi pilihan terakhir dalam pemilihan hewan kurban, kalah populer dibandingkan sapi, kambing, maupun domba. Anggapan umum bahwa daging kerbau lebih keras dan sulit diolah menjadi alasan utama minimnya minat masyarakat. Padahal, jika ditangani dengan teknik yang tepat, daging kerbau menyimpan potensi sebagai sumber protein hewani yang tak kalah unggul.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Irma Isnafia Arief, menjelaskan bahwa tekstur daging kerbau memang lebih padat dibandingkan daging sapi. Kondisi ini menuntut perlakuan khusus agar hasil olahannya empuk dan lezat. “Daging kerbau memiliki tekstur lebih keras dibandingkan daging sapi, sehingga memerlukan perlakuan khusus agar hasilnya empuk dan enak disantap,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman IPB University, Selasa (26/5/2026).
Menurut Irma, rendahnya popularitas daging kerbau tidak semata-mata karena kualitasnya, melainkan karena minimnya pemahaman masyarakat tentang cara mengolahnya. Faktor lain seperti rasa khas yang lebih tajam dan distribusi yang belum merata turut memengaruhi minat konsumsi. “Jika tahu cara mengolahnya, daging kerbau bisa jadi alternatif sumber protein hewani yang lezat, sehat, dan ekonomis,” tuturnya.
Salah satu kunci utama dalam mengolah daging kerbau adalah teknik memotong. Irma menyarankan agar daging dipotong melintang serat. Langkah ini dinilai mampu membantu proses pemasakan dan membuat tekstur daging lebih lembut saat dikonsumsi. Selain itu, pemanfaatan bahan alami seperti daun pepaya dan nanas dapat membantu melunakkan daging secara alami.
Ia juga merekomendasikan perendaman menggunakan bumbu seperti jahe, serai, daun jeruk, dan air jeruk nipis. Cara ini tidak hanya membantu mengurangi aroma khas daging kerbau, tetapi juga meningkatkan cita rasa masakan. “Sekaligus meningkatkan cita rasa,” tambahnya.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah memasak daging kerbau dengan api besar. Irma menegaskan bahwa metode tersebut justru membuat daging cepat kering dan semakin keras. Sebaliknya, teknik memasak perlahan atau slow cooking menggunakan api kecil, serta penggunaan panci presto, menjadi solusi yang lebih tepat. “Teknik sederhana seperti memukul daging sebelum dimasak juga dinilai efektif membantu memperbaiki tekstur daging,” ucapnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Henny Nuraini, memaparkan perbedaan mendasar antara daging sapi, kerbau, kambing, dan domba. Dari segi warna, daging sapi umumnya berwarna merah cerah, sedangkan kerbau cenderung lebih gelap. Daging domba memiliki warna merah terang hingga merah bata, sementara daging kambing berwarna merah muda dan tidak secerah sapi. Untuk memastikan kesegaran, Henny menyarankan untuk menyayat daging dan mengamati perubahan warnanya. Jika kembali merah segar setelah terkena udara, daging biasanya masih dalam kondisi baik.
Dari segi tekstur, daging sapi memiliki serat sedang dan tidak terlalu kaku. Sebaliknya, daging kerbau cenderung lebih kasar dan padat, terutama pada hewan yang lebih tua. Daging kambing dan domba memiliki serat lebih kecil dan halus sehingga cenderung lebih empuk, meskipun faktor umur tetap berpengaruh terhadap tingkat keempukan.
Aroma juga menjadi pembeda utama. Daging segar seharusnya tidak berbau menyengat. Bau anyir atau tengik bisa menjadi tanda kerusakan akibat mikroorganisme. Daging sapi memiliki aroma yang relatif lembut, sedangkan kerbau lebih tajam. Daging kambing, terutama jantan dan berusia tua, memiliki bau prengus yang lebih kuat, sementara domba cenderung lebih ringan. “Sebagai sumber protein hewani, daging memiliki nilai gizi tinggi, tetapi juga mudah rusak jika tidak ditangani dengan benar,” pesan Henny.
Artikel Terkait
Potensi Ekonomi Haji dan Umrah Rp60 Triliun per Tahun Dinilai Belum Maksimal, Pasokan Pangan Jemaah Masih Impor
Anggaran Rp100 Miliar untuk 1.098 Sapi Kurban Presiden Prabowo Bersumber dari APBN
Iran Kecam Serangan Militer AS di Selatan, Tuding Langgar Gencatan Senjata
Militer Meksiko Tangkap Keponakan El Chapo di Perbatasan AS