Wamenlu Anis Matta: Perebutan Pengaruh Global Tak Lepas dari Geografi dan Energi

- Jumat, 10 Juli 2026 | 13:25 WIB
Wamenlu Anis Matta: Perebutan Pengaruh Global Tak Lepas dari Geografi dan Energi

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menegaskan bahwa dinamika perebutan pengaruh global selama puluhan tahun tidak dapat dilepaskan dari faktor geografi dan penguasaan sumber daya energi. Pemahaman mendalam terhadap peta dunia menjadi kunci untuk membaca arah politik internasional secara akurat, karena penguasaan atas minyak bumi masih menjadi motor utama pergeseran peta kekuatan politik global.

Pernyataan itu disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2026). Diskusi yang dipandu Ketua Umum Sajid, Bachtiar Nasir, itu dihadiri puluhan jurnalis Muslim dan akademisi dari berbagai instansi.

Pembagian Kawasan Global

Secara geopolitik, Anis menjelaskan bahwa dunia terbagi ke dalam dua kawasan besar: Benua Amerika serta gabungan Asia, Afrika, dan Eropa. Pembagian geografis ini sangat memengaruhi distribusi penduduk, kekuatan ekonomi, hingga persaingan pengaruh antarnegara. Sekitar 1,1 miliar penduduk tinggal di Benua Amerika, sementara 7,1 miliar lainnya berada di tiga benua tua. Meski demikian, kedua kawasan sama-sama menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) global.

Anis menyoroti potensi besar negara-negara Islam dalam kelompok D-8, yang nilai PDB gabungannya mencapai sekitar 5,1 triliun dolar AS. Menurutnya, potensi finansial itu bisa menjadi modal berharga untuk membangun kerja sama ekonomi dunia Islam yang lebih mandiri.

Minyak sebagai Faktor Strategis

Selain faktor ekonomi, Anis menekankan bahwa minyak bumi masih menjadi faktor strategis yang mendominasi hubungan internasional. Sekitar 48 persen cadangan minyak dunia tersimpan di Timur Tengah, sementara hampir sepertiga lainnya berada di Benua Amerika. "Timur Tengah menjadi kawasan yang sangat strategis karena menyimpan hampir separuh cadangan minyak dunia. Ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kepentingan geopolitik global," ujarnya.

Anis juga mengulas sejarah persaingan Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin. Menurutnya, kepemilikan senjata nuklir oleh kedua kubu membuat perang terbuka tidak terjadi, melainkan bergeser menjadi perang proksi di berbagai kawasan. Ia menilai berbagai peristiwa pergantian rezim, perang saudara, hingga konflik politik di Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah merupakan dampak nyata dari kontestasi tersebut.

Sementara itu, negara-negara Teluk dinilai mampu menjaga stabilitas politik berkat sokongan kekayaan minyak dan gas. Kebijakan redistribusi kesejahteraan kepada masyarakat memperkuat ketahanan kawasan tersebut. Kondisi ekonomi yang mapan membuat kawasan Teluk berkembang lebih stabil dibandingkan sejumlah negara Arab non-Teluk yang berkali-kali dilanda pergolakan politik.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags