Dado mengakuinya. Dalam ingatannya, setidaknya ada dua momen di mana ia harus menggeleng, meski berat hati. Keputusan itu punya konsekuensi. Ia terpaksa melewatkan momen bersejarah Persib meraih gelar juara Liga Indonesia di tahun 2014. Suatu pencapaian yang pasti sangat ingin ia rasakan.
Namun begitu, di balik penolakan itu ada hikmahnya. Justru di periode yang sama, performanya yang konsisten membuka pintu lain yang tak kalah membanggakan: menjadi andalan di tim nasional Indonesia. Jadi, meski harus menunggu lebih lama untuk akhirnya mengenakan jersey biru, jalan yang ia lalui ternyata membentuknya menjadi pemain yang lebih matang.
Ceritanya mengingatkan kita bahwa dalam sepak bola, seperti dalam hidup, timing adalah segalanya. Kadang, mimpi tertunda bukan berarti hilang. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk terwujud.
Artikel Terkait
BMKG: Gempa Megathrust M 7,6 di Sulut Berpotensi Tsunami Tinggi
Uni Eropa Siapkan Rencana Darurat Energi, Antisipasi Guncangan Pasokan Akibat Perang
Pemkot Bogor Ancam Sanksi ASN yang WFH di Kafe, Pantau dengan Geotagging
Pemerintah Terapkan WFH Setiap Jumat untuk ASN Guna Hemat BBM