“Kami siap menanggung beban. Tapi menghormati komitmen itu sudah jadi tradisi kami,” lanjutnya. “Pemerintahan mana pun, latar belakang politiknya berbeda atau malah berlawanan, komitmennya tetap kami junjung.”
Menurutnya, stabilitas komitmen ini justru jadi pembeda. Ia menyoroti beberapa negara ekonomi besar yang justru berkali-kali mengalami gagal bayar. “Ini bukti bahwa Indonesia mitra yang terhormat dan bisa diandalkan,” ucap Prabowo. “Sejarah menunjukkan semua administrasi di sini menghormati komitmen dari era sebelumnya. Di zaman sekarang, hal seperti ini langka.”
Selain soal utang, Prabowo juga membuka peluang kerja sama. Kali ini, fokusnya pada hilirisasi industri dan pengembangan energi terbarukan. Ia menegaskan Indonesia tak mau lagi cuma jadi pengekspor bahan mentah. Tujuannya, masuk ke dalam rantai nilai global, dan untuk itu ia menawarkan kolaborasi teknologi dengan Jepang.
Kunjungan kenegaraan ke Tokyo ini sendiri diawali dengan pertemuan resmi bersama Kaisar Naruhito di Istana Kekaisaran. Prabowo didampingi sejumlah pejabat tinggi, termasuk Seskab Teddy Indra Wijaya, Menlu Sugiono, dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Forum bisnis tadi menjadi salah satu agenda inti untuk menarik lebih banyak kemitraan strategis.
Artikel Terkait
Polri Bangun Laboratorium AI dan Coding di Akademi Kepolisian Semarang
Timnas Indonesia Turunkan Skuad Terbaik Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series
Komisi III DPR Beri Penghargaan ke Kapolres Bekasi Atas Penyelesaian Sengketa Musala
Enam Tersangka Pembunuhan WN Ukraina di Bali Kabur ke Luar Negeri