Di tengah kompleks Akademi Kepolisian di Semarang, sebuah laboratorium baru sedang dibangun. Bukan laboratorium biasa, melainkan Laboratorium Sosial Sains Kepolisian yang bakal mengandalkan kecerdasan buatan dan sistem coding. Intinya, Polri ingin taruna-tarunanya tak cuma jago menembak atau olahraga, tapi juga melek teknologi digital.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo sendiri yang hadir dalam acara peletakan batu pertamanya, Senin lalu. Ia dengan tegas menyatakan bahwa laboratorium ini nantinya akan berbasis AI, coding, dan teknologi digital.
"Kita nggak bisa lagi ngajari taruna secara konvensional, makanya tidur saja taruna itu nanti,"
Ucapannya itu terdengar blak-blakan, tapi cukup menggambarkan kegelisahannya. Menurut Dedi, sistem pendidikan kepolisian harus berubah, harus modern dan inovatif. Metode pembelajaran lama dianggapnya sudah kurang menarik bagi para taruna yang notabene generasi Z.
Di sisi lain, mantan Kadiv Humas Polri ini mengakui bahwa memajukan lembaga pendidikan Polri bukan perkara mudah. Itu adalah sebuah tantangan sekaligus tanggung jawab kolektif.
"Ini tantangan dan tanggung jawab kita semuanya,"
Tekadnya jelas. Dengan laboratorium baru ini, Polri berharap bisa menciptakan taruna yang tak hanya tangguh di lapangan, tapi juga cerdas dan adaptif di era digital. Sebuah langkah yang memang sudah seharusnya diambil.
Artikel Terkait
MPR Gelar Lomba Baris-Berbaris di Tarakan untuk Perkuat Nasionalisme Generasi Muda
Prancis Resmi Cegat Menteri Israel Itamar Ben Gvir Masuk Wilayahnya Usai Perlakuan Rendahkan Aktivis Armada Kemanusiaan
Thailand, Satu-Satunya Negara di Asia Tenggara yang Tak Pernah Dijajah Bangsa Eropa
Ledakan Tambang Batu Bara di China Tewaskan 90 Orang, Terburuk dalam 17 Tahun