Dan ini bukan hal sepele. Bandara, bagi Maya, adalah pintu gerbang pertama bagi wisatawan yang datang ke Indonesia. Maka, penataan di sana menjadi sangat krusial.
Namun begitu, fokus mereka tak cuma pada infrastruktur fisik belaka. Ada upaya lain yang mungkin tak terlihat, tapi justru penting: mendorong perubahan budaya kerja. Visi bersama sebagai "agent of development" terus ditanamkan, dengan semangat gotong royong di atas segalanya. Tujuannya jelas, untuk meruntuhkan tembok sekat antar divisi dan menciptakan sinergi yang saling menguatkan dalam satu ekosistem besar.
"Dan integrasi itu mulai membuahkan hasil," kata Maya.
"Fungsi bandara sekarang tak lagi sekadar tempat transit. Ia berubah jadi ruang aktivitas dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi, itu terlihat dari peningkatan belanja per penumpang. Di sisi lain, transformasi di sektor hotel dan destinasi wisata juga ikut mendongkrak daya tarik Indonesia," paparnya.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana langkah InJourney ke depan untuk benar-benar memantapkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata kelas dunia? Untuk jawaban yang lebih lengkap, simak saja pembahasannya di program Blak-blakan detikcom.
Artikel Terkait
Petugas Bersihkan Tumpukan Sampah Pasar Kramat Jati, Tapi Hanya Bantuan Darurat
Mayjen (Purn) Soenarko Pimpin Gugatan Warga ke PN Jaksel Soal Penanganan Kasus Ijazah Presiden
IHSG Anjlok 1,74% di Awal Pekan, Sentimen Global Tekan Pasar
IHSG Anjlok 1,7%, Dihantam Aksi Jual Asing dan Gejolak Global