Di tengah hiruk-pikuk isu lingkungan versus ekonomi, ada cerita yang membuktikan keduanya bisa berjalan beriringan. Kisahnya datang dari Desa Namang, Bangka Tengah, dipelopori oleh Muhammad Zaiwan, sang kepala desa. Dialah tokoh di balik Madu Pelawan, produk unggulan yang kini mulai mencuri perhatian pasar internasional, tak lepas dari dukungan Indonesia Eximbank (LPEI).
Semuanya berawal dari sebuah keputusan berani di tahun 2008. Saat harga timah melambung tinggi dan banyak orang tergiur, Zaiwan justru menerbitkan Peraturan Desa untuk melindungi Hutan Pelawan. Kawasan seluas 300 hektare itu ia selamatkan dari ancaman penambangan liar.
Pilihannya jelas: tidak mengeksploitasi. Alih-alih menggali tanah untuk timah, ia menggali potensi hutan yang lestari. Fokusnya beralih ke hasil hutan bukan kayu, dan yang paling menonjol adalah madu. Madu Pelawan ini unik. Diambil dari lebah liar yang menghisap nektar bunga Pohon Pelawan, warnanya gelap, rasanya pahit, dan katanya kandungan nutrisinya jauh di atas rata-rata.
Namun begitu, jalan yang ditempuh Zaiwan tidak mulus. Pilihannya itu sempat memicu pro dan kontra yang sengit. Secara hukum, kawasan hutan itu berstatus APL, yang artinya bisa saja dijual atau dijadikan tambang. Tekanan datang dari mana-mana. Apalagi, masyarakat setempat punya keyakinan: di mana ada Pohon Pelawan, di situlah biasanya tersimpan timah dalam jumlah besar.
“Banyak yang membujuk. Katanya, potensi keuntungannya bisa miliaran rupiah,” kenang Zaiwan. Tapi bujukan itu tak menggoyahkannya. Hutan itu menyimpan kenangan masa kecilnya. Ia merasa sayang.
“Lalu karena ada Perdes tadi ada yang bilang saya stres, gila, bodoh, karena menolak uang besar dari tambang timah. Tapi saya merasa sayang dengan hutan ini,” ujar Zaiwan.
Meski teguh melindungi hutan, Zaiwan tak melupakan kesejahteraan warga. Ia lalu mengajak masyarakat kembali ke tradisi lama: mencari madu. Tradisi yang sebenarnya turun-temurun, namun sempat ditinggalkan karena banyak yang beralih ke tambang. Ia yakin, Madu Pelawan punya ciri khas dan potensi besar. Untuk mengembangkannya, ia mencari dukungan, termasuk dari Indonesia Eximbank/LPEI, untuk membuka jalan ke pasar internasional.
Artikel Terkait
Tiga Smelter Raksasa Vale Indonesia Pacu Progres, Target Operasi 2026-2027
Prabowo Ajukan Thomas Djiwandono untuk Isi Kursi Deputi Gubernur BI
IHSG Tembus 9.133, Rupiah Ikut Menguat di Tengah Awan Kelabu Bursa Asia
Prajogo Pangestu Gelontorkan Rp8,49 Miliar untuk Tambah Porsi Saham Barito Pacific