“Kita akan tempatkan untuk exchange ke Jepang sehingga nanti mereka punya standar baru yang dibawa ke Indonesia,” jelas Welfizon.
Rencananya, 20 pramudi pilihan akan diberangkatkan dalam program pertukaran internasional itu. Tujuannya jelas: menimba ilmu langsung dari negara yang terkenal dengan disiplin dan pelayanan transportasi publiknya yang prima. Welfizon berharap, pengalaman ini bisa membuka wawasan baru dan menanamkan standar pelayanan yang lebih tinggi.
Di sisi lain, program ini juga dimaksudkan untuk membangun citra dan masa depan profesi sebagai pramudi TransJakarta. “Membangun mimpi bahwa profesi pramudi di TransJakarta itu punya masa depan dan juga punya kesempatan yang lebih luas,” tambahnya. Ia menekankan, ini soal profesionalisme dan perspektif.
Seluruh rangkaian program ini ternyata buah kolaborasi. Pemprov DKI Jakarta, TransJakarta sendiri, dan Baznas bahu-membahu mewujudkannya. Bahkan, hal-hal teknis seperti pembuatan SIM dan sertifikasi para calon pengemudi ini ditanggung melalui dana CSR perusahaan.
“Ini salah satu bentuk intervensi kita,” tutur Welfizon menutup pembicaraan. Intervensi yang diharapkannya bisa langsung terasa: peningkatan kualitas sopir yang ujung-ujungnya bermuara pada pelayanan yang lebih memuaskan bagi warga Jakarta.
Artikel Terkait
Korlantas Siap Terapkan One Way Nasional di Tol Trans Jawa Jika Arus Balik Membeludak
Pemerintah Tegaskan Subsidi BBM Belum Dibatasi, Harga Dipertahankan
Debut Herdman di Kandang, Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts & Nevis
KPK Pastikan Prosedur Penanganan Kasus Yaqut Sesuai Aturan