Di sisi lain, aturan niat puasa Syawal ini lebih longgar ketimbang puasa Ramadan. Kalau untuk Ramadan, niat harus sudah ditancapkan sejak malam hari. Untuk puasa Syawal, kamu masih boleh berniat di pagi atau siang hari, asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak subuh tadi. Lumayan fleksibel, kan?
Pelaksanaannya sendiri selama enam hari di bulan Syawal. Memang lebih afdhal kalau dikerjakan berturut-turut selepas Idulfitri. Tapi nggak masalah juga kalau dipisah-pisah, asal masih dalam lingkup bulan Syawal. Yang penting totalnya enam hari.
Nah, pertanyaan yang kerap muncul: gimana kalau masih punya utang puasa Ramadan? Mana yang harus didahulukan?
Para ulama sepakat, utang puasa wajib (qadha) harus diselesaikan dulu. Ibadah wajib jelas lebih utama. Tapi, ada juga pendapat menarik. Menurut sebagian ulama, jika kamu berniat qadha di bulan Syawal, kamu tetap dapat pahala sunnah Syawal sekaligus. Meski begitu, niat yang terbaik tetaplah memisahkan keduanya agar pahala masing-masing bisa didapat secara utuh.
Rasulullah SAW pernah bersabda, barangsiapa yang berpuasa Ramadan lalu diikuti dengan enam hari di Syawal, maka ia seperti puasa setahun. Ini semacam bonus, sebuah kesempatan emas untuk melanjutkan momentum ibadah setelah Ramadan usai.
Pada akhirnya, puasa Syawal ini ibarat jembatan. Ia membantu kita menjaga ritme ibadah dan ketakwaan yang sudah dibangun selama sebulan penuh. Dengan memahami tata caranya, termasuk soal niat ini, semoga kita bisa menjalankannya dengan lebih khusyuk dan penuh keyakinan.
(Fany Wirda Putri)
Artikel Terkait
Herdman: Kemenangan di FIFA Series Bukan Harga Mati, Fondasi untuk 2030 Lebih Penting
Menteri ESDM Tegaskan Stok Energi Nasional Aman di Tengah Konflik Global
Wagub Kaltara Soroti Kondisi Jembatan dan RS Rusak di Perbatasan Apau Kayan
Spekulasi Hubungan Baru Pratama Arhan dengan Selebgram Inka Andestha