Di Indonesia, sebuah isu bisa meledak jadi viral cuma dalam hitungan jam. Cukup dengan potongan video singkat, tangkapan layar percakapan, atau bahkan satu cuitan di media sosial. Ribuan komentar langsung berdatangan, seringkali sebelum informasi yang lengkap sempat tersaji. Fenomena ini, kalau kita renungkan, menunjukkan satu kebiasaan yang kian mengakar: kita semua sudah terlalu terbiasa bereaksi instan.
Refleks pertama kita begitu sederhana: lihat unggahan menarik, langsung klik, komen, atau bagikan. Padahal, di balik setiap interaksi kecil itu, ada ratusan "keputusan mikro" yang kita ambil sepanjang hari. Di tengah arus informasi yang deras, ruang untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan akurasi sebuah konten seringkali hilang begitu saja.
Lelahnya Otak karena Terlalu Banyak Memutuskan
Psikolog ternama Daniel Kahneman pernah memperingatkan hal ini dalam bukunya, Thinking, Fast and Slow. Kesalahan, katanya, sering muncul ketika manusia bereaksi terlalu cepat, mengandalkan intuisi tanpa proses berpikir yang reflektif.
Nah, pengamat perilaku digital punya istilah untuk kondisi ini: micro decision fatigue. Intinya, otak kita jadi lelah karena terus-terusan dipaksa membuat keputusan kecil. Akibatnya? Kita jadi lebih reaktif dan kurang waspada. Teknologi sendiri mungkin tak perlu melambat, tapi cara kita meresponsnyalah yang perlu diatur. Lantas, apa jadinya kalau kita coba berhenti sebentar sebelum bertindak di dunia digital?
Mengenal Metode JEDA, Cara Sederhana untuk Tidak Terburu-buru
Menurut psikolog Irma Agustina (@ayankirma), kunci untuk menghadirkan ruang refleksi itu sebenarnya sederhana: beri jeda. Cuma jeda singkat saja, sebelum mengambil keputusan digital apapun.
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jakarta Sepanjang Hari Ini
TNI Serahkan Jabatan Kabais Terkait Kasus Penyegelan Aktivis KontraS
Panglima TNI Pimpin Rotasi Besar-Besaran Sejumlah Jabatan Strategis
2.708 ASN Kemensos Absen Usai Lebaran, Diwajibkan Ikuti Apel Khusus