Psikolog Sarankan Metode JEDA untuk Tangkal Reaksi Instan di Media Sosial

- Kamis, 26 Maret 2026 | 03:30 WIB
Psikolog Sarankan Metode JEDA untuk Tangkal Reaksi Instan di Media Sosial

Di Indonesia, sebuah isu bisa meledak jadi viral cuma dalam hitungan jam. Cukup dengan potongan video singkat, tangkapan layar percakapan, atau bahkan satu cuitan di media sosial. Ribuan komentar langsung berdatangan, seringkali sebelum informasi yang lengkap sempat tersaji. Fenomena ini, kalau kita renungkan, menunjukkan satu kebiasaan yang kian mengakar: kita semua sudah terlalu terbiasa bereaksi instan.

Refleks pertama kita begitu sederhana: lihat unggahan menarik, langsung klik, komen, atau bagikan. Padahal, di balik setiap interaksi kecil itu, ada ratusan "keputusan mikro" yang kita ambil sepanjang hari. Di tengah arus informasi yang deras, ruang untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan akurasi sebuah konten seringkali hilang begitu saja.

Lelahnya Otak karena Terlalu Banyak Memutuskan

Psikolog ternama Daniel Kahneman pernah memperingatkan hal ini dalam bukunya, Thinking, Fast and Slow. Kesalahan, katanya, sering muncul ketika manusia bereaksi terlalu cepat, mengandalkan intuisi tanpa proses berpikir yang reflektif.

Nah, pengamat perilaku digital punya istilah untuk kondisi ini: micro decision fatigue. Intinya, otak kita jadi lelah karena terus-terusan dipaksa membuat keputusan kecil. Akibatnya? Kita jadi lebih reaktif dan kurang waspada. Teknologi sendiri mungkin tak perlu melambat, tapi cara kita meresponsnyalah yang perlu diatur. Lantas, apa jadinya kalau kita coba berhenti sebentar sebelum bertindak di dunia digital?

Mengenal Metode JEDA, Cara Sederhana untuk Tidak Terburu-buru

Menurut psikolog Irma Agustina (@ayankirma), kunci untuk menghadirkan ruang refleksi itu sebenarnya sederhana: beri jeda. Cuma jeda singkat saja, sebelum mengambil keputusan digital apapun.

Cara-cara fisik bisa membantu. Misalnya, menarik napas dalam, menutup mata beberapa detik, atau sekadar meregangkan badan. Tindakan kecil ini bisa menenangkan pikiran yang sedang kalut.

Ada juga yang menawarkan micro-break activity lewat situs tertentu, mengajak pengunjungnya berhenti sepuluh detik sebelum merespons sesuatu. Tujuannya bukan untuk memvonis benar-salah, tapi lebih untuk merasakan sendiri bedanya keputusan yang diambil dengan kepala dingin.

Sebagai panduan, ada empat langkah JEDA yang bisa dicoba:

  • J Jangan reaktif. Tahan dulu jempolmu.
  • E Evaluasi informasi. Dari mana sumbernya? Sudah lengkap belum?
  • D Double-check. Crosscek ke sumber lain yang terpercaya.
  • A Ambil keputusan dengan tenang. Baru sekarang, tentukan mau diapakan informasi itu.

Keempat langkah ini bukan aturan mati, melainkan pengingat agar emosi dan rasionalitas kita bisa bekerja lebih seimbang. Di tengah budaya digital yang serba cepat dan spontan, kemampuan untuk berhenti sejenak justru jadi aset yang sangat berharga.

Kadang, untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih, kita cuma butuh waktu sepuluh detik saja sebelum akhirnya mengklik.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar