Lebaran di Pangandaran, Lebih dari 40 Anak Sempat Hilang dari Keluarga

- Selasa, 24 Maret 2026 | 11:15 WIB
Lebaran di Pangandaran, Lebih dari 40 Anak Sempat Hilang dari Keluarga

Lautan manusia masih membanjiri Pantai Pangandaran di hari ketiga Lebaran. Suasana riuh rendah wisatawan yang ingin menikmati ombak dan pasir ternyata menyimpan cerita lain: puluhan anak justru terpisah dari orang tua mereka di tengah keramaian itu. Menurut data yang dihimpun, lebih dari 40 anak hilang dari pengawasan keluarganya.

Kapolres Pangandaran, AKBP Ikrar Potawari, mengonfirmasi kejadian ini. Keramaian yang luar biasa, katanya, menjadi penyebab utama.

"Karena banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran, ada beberapa laporan yang masuk ke kita, ada yang terpisah, anak terpisah dari orang tuanya, dan orang tua yang terpisah dengan anaknya," jelas Ikrar, Senin (23/3/2026).

Mendengar laporan, petugas di pos-pos pantau langsung bertindak. Mereka tak henti-hentinya menyebutkan ciri-ciri anak atau keluarga yang hilang lewat pengeras suara, berharap ada yang mengenali. Upaya itu tak sia-sia. Sebagian besar kasus berakhir dengan pertemuan kembali yang mengharukan. Rasa panik para orang tua pun akhirnya terobati.

"Alhamdulillah semua ditemukan, tidak ada yang hilang. Semua tertangani berkat kerja sama semua stakeholder yang ada di Pangandaran," ungkapnya dengan lega.

Meski begitu, pihak berwajib tak mau ambil risiko. Mereka sudah mengantisipasi untuk hari-hari berikutnya. Gabungan personel TNI, Polri, Basarnas, hingga penjaga pantai dikerahkan lebih masif lagi. Pengawasan diperketat. Di titik-titik yang dianggap rawan, bendera merah tanda larangan berenang berkibar sebagai peringatan visual yang jelas.

Nasihat dari polisi pun sederhana namun krusial: jangan lengah. Di tengah euforia liburan, pengawasan terhadap anak-anak dan keluarga harus jadi prioritas. Dengan begitu, momen bahagia tidak berubah menjadi petaka.

"Kami imbau masyarakat silahkan menikmati keindahan Pangandaran, tetapi jaga keselamatan," pesan Ikrar menutup perbincangan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar