Dari Pyongyang, kabar terbaru datang langsung dari ruang sidang parlemen. Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara, baru saja menyampaikan pidato yang isinya cukup keras. Intinya? Negeri itu bakal terus memperkuat giginya senjata nuklir secara permanen. Dan ada satu pernyataan yang bikin mata terbelalak: Korea Selatan kini resmi dianggap sebagai "negara yang paling bermusuhan."
Pidato itu disampaikan Kim di hadapan Majelis Rakyat Tertinggi, Senin lalu. Media pemerintah KCNA baru merilisnya Selasa kemarin. Nada yang dipakai jelas dan tegas. Status Korea Utara sebagai negara nuklir, kata Kim, sudah final. Tak bisa diganggu gugat.
“Memperluas penangkal nuklir untuk pertahanan diri itu penting banget,” begitu kira-kira penekanannya. Menurut dia, hal itu kunci untuk keamanan nasional, bahkan stabilitas kawasan dan pertumbuhan ekonomi. Gagasan menukar pelucutan senjata nuklir dengan bantuan ekonomi atau jaminan keamanan? Langsung ditolak mentah-mentah. Kim bilang, langkah mereka selama ini membuktikan bahwa mempertahankan nuklir sambil membangun ekonomi adalah pilihan strategis yang tepat.
Senjata nuklir, dalam pandangannya, justru telah mencegah perang. Alhasil, negara bisa fokus mengerahkan sumber daya untuk pembangunan dan menaikkan taraf hidup rakyat.
Di sisi lain, Kim tak lupa menyasar Washington dan sekutunya. Dia menuduh Amerika Serikat telah mengacaukan situasi regional dengan mengerahkan aset-aset nuklir strategis di sekitar Semenanjung Korea. Namun begitu, dia menyatakan Korea Utara tak lagi merasa sebagai pihak yang terancam. Justru sebaliknya mereka kini punya kekuatan untuk mengancam balik jika diperlukan.
Soal Seoul, peringatannya terang benderang. Setiap upaya yang dinilai melanggar kedaulatan Korea Utara akan dihadapi “tanpa ampun, tanpa ragu-ragu atau menahan diri.”
Komentar semacam ini makin mengukuhkan pergeseran sikap Pyongyang yang sudah terlihat beberapa waktu terakhir. Reunifikasi damai dengan Korea Selatan, yang dulu jadi cita-cita lama, sepertinya sudah dikubur dalam-dalam. Kini hubungan kedua Korea didefinisikan ulang secara gamblang: dua negara yang saling bermusuhan. Beberapa analis menduga perubahan drastis ini bahkan akan segera dikodifikasi dalam hukum. KCNA sendiri tak memberi penjelasan lebih rinci.
Rencana Lima Tahun dan Anggaran Pertahanan
Selain urusan keamanan, Kim juga bicara panjang lebar soal ekonomi. Dia mendorong para pejabat untuk menjalankan penuh rencana pembangunan lima tahun baru. Fokusnya pada modernisasi industri, meningkatkan produksi listrik dan batubara, swasembada pangan, serta perluasan program perumahan.
Ini jadi tantangan berat. Nyatanya, Korea Utara masih termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Ekonominya tertekan sanksi internasional dan dilanda kelangkaan kronis. Sebagian besar warganya masih bergantung pada jatah pemerintah dan pasar gelap untuk bertahan hidup.
Menurut KCNA, sidang parlemen itu telah mengadopsi amandemen konstitusi dan mengesahkan undang-undang baru untuk mendukung rencana ekonomi tadi.
Anggaran tahun 2026 juga disetujui. Yang menarik, porsi belanja pertahanan naik jadi 15,8 persen dari total pengeluaran negara. Dananya secara eksplisit dialokasikan untuk memperluas kemampuan pencegahan nuklir dan kesiapan perang.
Di tengah suasana sidang yang tegas itu, ada juga kabar yang agak berbeda. Sidang menerima pesan ucapan selamat dari Presiden Rusia, Vladimir Putin. Dalam pesannya, Putin memuji kepemimpinan Kim dan berjanji akan memperdalam kemitraan strategis komprehensif antara Moskow dan Pyongyang. Sebuah hubungan yang makin hangat di tengah tekanan dunia.
Artikel Terkait
Ibas Nilai BSPS dan Makan Bergizi Gratis Jadi Motor Ekonomi Desa
Sopir Taksi Online Bekasi Mengaku Mobil Mendadak Mati dan Pintu Terkunci saat Terjebak di Perlintasan Rel
Polisi Tolak Suap Rp100 Ribu Saat Tilang Pengemudi Pelat Palsu di Puncak Bogor
Polri Dalami Bukti Digital Laporan Jusuf Kalla soal Dugaan Hoaks