“Kami akan menetapkan Korea Selatan sebagai negara yang paling bermusuhan dan akan menghadapinya dengan menolak dan mengabaikannya sepenuhnya,” kata Kim tanpa tedeng aling-aling.
Ancaman itu tak berhenti di situ. Pyongyang, lanjutnya, siap memberikan respons yang kejam.
“Kami akan membuatnya membayar tanpa ampun tanpa pertimbangan atau keraguan sedikit pun atas setiap tindakan yang melanggar Republik kami,” tambahnya. Kata-katanya terdengar seperti ultimatum yang dingin dan terukur.
Di sisi lain, Kim juga berbicara soal kesiapan operasional. Pasukan nuklir negaranya, klaimnya, akan dijaga dalam kondisi siaga penuh. Tujuannya jelas: menangkis segala bentuk ancaman strategis yang mungkin datang. Semua ini, dalam narasi yang dibangun Pyongyang, adalah bagian dari penangkal pertahanan diri yang diamanatkan konstitusi.
Jadi, pesannya jelas. Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, Korea Utara akan terus berjalan di jalur yang sudah dipilihnya. Dengan senjata nuklir di tangan dan pandangan penuh curiga ke Seoul, situasi di semenanjung Korea tampaknya akan tetap tegang untuk waktu yang lama.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Anjlom Signifikan, Emas 1 Gram Turun Rp71 Ribu
Menhub Imbau Pengusaha Logistik Patuhi Aturan Truk Saat Puncak Arus Balik Lebaran
China Desak Warganya Segera Tinggalkan Israel, Siapkan Evakuasi via Mesir
Iran Bantah Tegas Laporan Negosiasi Diam-diam dengan AS