Oleh: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Sikka
Pasca Idulfitri, mobilitas masyarakat memang meningkat. Namun di sisi lain, ancaman bencana hidrometeorologi basah ternyata belum juga reda. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru saja merilis laporan pemantauan 24 jam, dari Minggu pagi hingga Senin pagi (22-23 Maret 2026). Dan situasinya cukup memprihatinkan.
Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu titik terparah. Banjir sudah melanda sejak Jumat sore, 20 Maret lalu. Pemicunya? Hujan dengan intensitas sedang sampai lebat yang mengguyur, terutama di kawasan Kecamatan Tanawawo. Akibatnya, Sungai Lowo Regi tak mampu lagi menahan debit air dan akhirnya meluap.
Dampaknya langsung terasa. Crossway Kali Lowo Regi di Desa Masebewa mengalami kerusakan cukup parah. Akses jalan antar desa pun terputus total. Bayangkan saja, warga yang hendak bepergian atau mengangkut logistik terpaksa berhenti di titik itu. Bahkan, untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak yang nekat menyeberangi arus banjir dengan berjalan kaki tentu saja ini sangat berisiko.
Menurut data terbaru, bencana ini sudah menyentuh 10 desa. Sekitar 2.922 kepala keluarga atau setara dengan 12.981 jiwa merasakan dampaknya. Kerusakan properti juga terjadi. Dari ribuan rumah terdampak, satu unit dilaporkan rusak berat dan tiga lainnya rusak ringan.
Tapi kerugiannya tak cuma sampai situ. Sektor pertanian dan infrastruktur publik ikut kolaps. Ada 15 hektare lahan persawahan yang terendam. Bangunan penangkap air rusak, pipa distribusi air bersih putus, dan akses jalan di empat titik lainnya penuh dengan lubang. Situasi yang benar-benar menyulitkan.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Kritik Kelambanan Data Pemda Hambat Pembangunan Huntap Pascabencana
Pemain Inti Timnas Indonesia Mulai Berdatangan Jelang FIFA Series 2026
ASDP Ambon Perpanjang Jam Layanan Kapal Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran
Juara Dunia MotoGP Joan Mir Prediksi Veda Ega Pratama Bisa Kompetitif di Moto3 2026