“Kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan logistik, air bersih, terpal, perbaikan darurat akses jalan, hingga perlengkapan dapur,”
demikian keterangan dari BPBD Kabupaten Sikka yang kini turun ke lapangan bersama instansi terkait untuk melakukan asesmen dan pendataan. Upaya penanganan sedang dipercepat.
Namun begitu, banjir bukan satu-satunya masalah. Di wilayah yang sama, ancaman tanah longsor masih membayangi. Peristiwa yang terjadi lebih awal, tepatnya Jumat dini hari 6 Maret lalu, itu masih dalam penanganan hingga Minggu (22 Maret). Longsoran menutup akses jalan penghubung Desa Poma dan Desa Napugera di Kecamatan Tanawawo.
Penyebabnya klasik: hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi panjang. Material tanah dan bebatuan menimbun badan jalan di dua titik, mengisolasi warga dan mengganggu aktivitas. Sebanyak 11 kepala keluarga terdampak, dengan rumah mereka dalam kondisi terancam. Saat ini, pembersihan material dilakukan bersama oleh BPBD, TNI/Polri, Dinas PUPR, relawan, dan masyarakat setempat.
Seluruh kejadian ini terjadi dalam periode Status Siaga Darurat Bencana di NTT yang masih berlaku hingga 8 Juni 2026 mendatang. Kondisinya memang rawan.
BNPB pun kembali mengingatkan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi. Pantau terus informasi cuaca, jaga kebersihan saluran air, dan yang paling penting jangan ragu untuk segera mengungsi ke tempat aman jika melihat tanda-tanda bahaya, seperti debit air yang naik cepat atau retakan di lereng bukit. Keselamatan tetap yang utama.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Mendagri Tito Kritik Kelambanan Data Pemda Hambat Pembangunan Huntap Pascabencana
Pemain Inti Timnas Indonesia Mulai Berdatangan Jelang FIFA Series 2026
ASDP Ambon Perpanjang Jam Layanan Kapal Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran
Juara Dunia MotoGP Joan Mir Prediksi Veda Ega Pratama Bisa Kompetitif di Moto3 2026